Aksi mengecam Tindakan Represif Polisi Tetap Berlanjut

2011-12-29  18:55:14

SAMARINDA, Polri terus menjadi sorotan. Bukan soal prestasinya yang cemerlang, tapi karena beberapa peristiwa kekerasan yang dilakukan anggotanya di lapangan yang berujung pada terenggutnya nyawa rakyat.
Dugaan kekerasan di Mesuji Sumatera Selatan dan Lampung belum selesai diusut, tapi raktik kekerasan oleh aparat kembali muncul. Yang terbaru, pembubaran blokade warga di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat pada Sabtu 24 Desember 2011, yang menuntut pencabutan izin eksplorasi tambang emas di daerahnya.
Kahar Al Bahri Salah atau yang biasa disapa dengan Oca satu Koordinator aksi mengatakan bahwa aksi kekerasan terhadap rakyat masih terus berulang jika pihak kepolisian dan pemerintah tidak memperbaiki diri, pemerintah sudah harus menghentikan semua bentuk ekploitasi sumber daya alam atas nama rakyat.
"Jika ini benar-benar atas nama rakyat, rakyat tentu akan senang jika SDA yang ad adigunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, yang ada saat ini adalah rakyat disekitar lokasi tambang batu bara dan perkebunan sawit yang dibuka pemerintah ternyata hanya digunakan untuk segelintir orang atau pengusaha," kata Oca.
kerusakan lingkungan akan terus terjadi atas nama investasi, ironisnya pemerintah dan aparat penegak hukum ikut menikmati dampak dari kerusakan lingkungan itu, sementara masyarakat yang menanggung akibatnya.
Sebelumnya sekumpulan mahasiswa yang mengatasnamakan Peduli Teluk Balikpapan, mereka meminta Gubernur untuk menyetop pembangunan jembatan Pulau Balang karena dianggap mengancam kerusakan lingkungan Teluk Balikpapan. Mereka tiba sekitar pukul 12.00 wita.
Kemudian berselang beberapa menit, massa kedua tiba, yakni dari Aliansi Mahasiswa Bima. Mereka meminta Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak untuk menyampaikan aspirasi mereka, agar mencopot Kapolri, Kapolda NTB, Kapolres Bima dan antek-anteknya, karena dianggap telah gagal dalam mengamankan Bima, dengan kasus tindakan represif aparat di Sape Bima, yang memakan korban masyarakat.
Sementara itu ditempat lain seratus mahasiswa yang tergabung dalam PSLDK Kaltim, KAMMI Kaltim, LDK se-Samarinda dan LDF se Unmul melakukan aksi demo menuntut kemerdekaan Palestina di perempatan mal Lembuswana, Samarinda, Rabu (28/12).
Jumardi Koordinator aksi  mengatakan bahwa penyerbuan ke jalur Gaza selama dua pekan yang dilakukan Israel setahun yang lalu telah membuat 1500 warga sipil tewas dan 5000 diantaranya luka-luka.
"Miris, ketika menyaksikan bahwa ternyata masih ada negara yang belum mendapatkan kemerdekaannya. Palestina adalah salah satu negara di dunia yang terhalangi kedaulatannya oleh tekanan Amerika Serikat dan sekutunya yang merupakan antek-antek zionis," kata Jumardi. M4n  

Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

KAMIS
KAMIS
New User Login




Video News
To watch this video, you need the latest Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...

 
 
 
 
 
 
 
 
Iklan...
Raih sukses didepan mata
Media promosi online poskota kaltim.com sarana terpercaya untuk mempromosikan usaha anda dalam sekejap akan dilihat oleh dunia

Ucapan Terima Kasih
Segenap Pimpinan dan Seluruh Staff Atas kepercayaan Anda Membuka WebSite Kami

Hotline
Editorial
Solusi
Surat Pembaca
Polling
Berita apa saja yang menurut anda sangat diminati pembaca poskotakaltim
Daerah
pariwisata
hukum
Pendidikan
perekonomian
semua berita
 
total pemilih : 1233 | Lihat Hasil
Pasang iklan anda disini...