Konsisten Awang-Farid Jangan Ditanya Soal Pendidikan2012-01-17 19:10:05
SAMARINDA, Melihat perkembangan dunia pendidikan yang kini terus berjalan di Kaltim tentu tidak lepas dari dukungan seluruh pihak, baik pemerintah dan pemangku kepentingan yang berada di dalamnya. Jika berkaca pada kepemimpinan Gubernur Kaltim dan Wagub Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dan Farid Wadjdy selama tiga tahun terakhir ini dengan slogan membangun Kaltim Untuk Semua menuju Kaltim Bangkit 2013. Ternyata bukan hanya program yang biasa setelah digaungkan kemudian tidak ada realisasinya. Tapi, hal ini tidak dengan kepemimpinan Awang- Farid. Kedua pemimpin Kaltim ini telah menunjukkan komitmen dan konsistennya terhadap dunia pendidikan, karena itu, soal perjuangan pendidikan di Kaltim tak perlu ditanya lagi. “Melihat kinerja Bapak Awang Faroek dan Farid Wadjdy, kami menilai banyak terobosan-terobosan pendidikan yang sangat membangun. Nah, jika melihat program yang kini dijalankan beliau berdua, khususnya memberikan anggaran 20 persen dari APBD Kaltim tak perlu lah diragukan lagi. Sebab, sejak awal kepemimpinan mereka hal ini sudah dilakukan,” ujar pengamat Pendidikan Unmul yang juga sebagai Dekan FKIP Unmul Drs H Syahril Bardin MSi, ketika ditemui di ruang kerjanya di Jalan Muara Pahu Kampus Unmul Gunung Kelua belum lama ini. Memang anggaran pendidikan telah diprogramkan mencapai 20 persen. Hanya saja, 20 persen tersebut tidak sepenuhnya dikelola Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim. Tapi, sesuai janji dan harapan Undang-Undang, Awang Faroek dan Farid Wadjdy telah konsisten dalam memberikan hal itu. “Tentunya dengan dana pendidikan tersebut diharapkan, seperti dana rehab, honor guru bantu dan insentif yang diberikan kepada guru-guru selama kepemimpinan Bapak Awang Faroek dan Farid Wadjdy,” sambung Syahril. Sedangkan mengenai pembebasan pembayaran SPP, tentunya ini semua merupakan kebijakan dari Pemkab dan Pemkot se-Kaltim yang bertanggungjawab. Hanya saja, untuk anggaran 20 persen tersebut diharapkan dapat diatur dengan baik, sehingga untuk rehab, honor dan insentif bisa diatur dengan baik pengelolaannya. “Dengan anggaran 20 persen tersebut diharapkan tidak adalagi sekolah yang tidak layak lagi untuk digunakan dalam proses belajar mengajar. Harapannya, dana tersebut diatur secara professional untuk menunjang dunia pendidikan di Kaltim. Yang jelas apa yang dilakukan kedua beliau sudah benar,” jelas Syahril. Sementara itu, mengenai biaya pendidikan, baik stimulan dan beasiswa Pemprov Kaltim tidak perlu ditanya lagi selama kepemimpinan Awang-Farid. “Mengapa saya katakan begitu, karena Unmul sendiri cukup banyak mahasiswanya yang mendapatkan dan merasakan bantuan tersebut, sehingga wajar jika tidak perlu diragukan lagi komitmen beliau berdua dalam memperjuangkan dunia pendidikan,” katanya. Meski saat ini Pemprov Kaltim berjuang dalam mendukung kesejahteraan guru dan siswa di daerah. Tapi, Syahril berharap kesejahteraan dosen juga dapat diperjuangkan oleh Gubernur dan Wagub Kaltim. “Untuk dosen senior saja mungkin tidak masalah saat ini. Tapi, untuk dosen-dosen yang baru kan juga perlu dukungan, sehingga ketika mereka mengajar juga lebih termotivasi dan semangat dalam bekerja. Ya, paling tidak ke depan ada insentif yang diberikan untuk dosen dari Pemerintah Daerah,” pintanya. mar
|