Petani Tanjung Buka Terancam Gagal Panen2012-01-25 18:32:47
TANJUNG SELOR, Puluhan petani di daerah Unit Pelayanan Transmigrasi (UPT) SP I Tanjung Buka Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan terancam gagal panen. Pasalnya, ratusan hektar sawah mereka terserang hama seperti tikus, burung dan rumput liar bersifat menggerogoti padi. Gagal panen tanaman padi bukan kali ini saja dialami petani. Tapi hampir setiap tahun mereka selama terancam gagal panen. Padahal wilayah mereka merupakan daerah yang dicanangkan Pemkab Bulungan sebagai kawasan swasembada beras. Bahkan wilayah itu pernah diresmikan oleh Menteri Pertanian beberapa bulan lalu. Kondisi itu diperparah oleh sikap Dinas Pertanian dan Dinas Transmigrasi Kabupaten Bulungan, yang kurang memperhatikan wilayah pertanian mereka. Misalnya, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian jarang ditempat. Lalu, Kantor Unit Pemukiman Transmigrasi (KUPT) yang seyogyanya ditempati Ketua UPT, ternyata sering kosong. Salah seorang petani, Kersa ditemui Poskota Kaltim, Selasa (24/1) mengakui bahwa lahan pertanian mereka terancam gagal panen. Ini akibat serangan hama tikus, burung dan rumput liar. “Petugas PPL memang ada di sini, tapi tidak menentu. Mereka jarang masuk ke daerah ini. Artinya sesuka mereka lah masuk kesini (lahan pertanian,red. Kami pun tidak mengetahui dengan jelas jadwal PPL tersebut. Selain itu, Ketua UPT pun tidak ada di tempat. Jadi antara petugas PPL dengan Ketua UPT, semuanya tinggal di Tanjung Selor. Mereka tidak berada di lokasi para petani setiap saat. Padahal dengan situasi ini, kita membutuhkan pendampingan dari petugas PPL,” ungkap Kersa. Dia merasa Dinas Pertanian kurang memperhatikan mereka. Terbukti, pendistribusian bibit padi, pupuk dan pembasmi serangga tak sesuai kondisi dan tidak tepat waktu diberikan kepada petani. “Memasuki masa tanam, bibitnya tidak ada. Dan dikirim setelah masa tanam usai. Ketika ada hama dan rumput liar, pembasminya pun terlambat datang, sehingga sempat membuat tanaman padi menjadi rusak,” jelas Kersa. Hal senada diungkapkan Dedi yang merupakan petani transmigrasi asal Jawa Barat. Kehidupan ekonominya selama menjadi petani didaerah tersebut semakin terpuruk, karena setiap tahun mengalami penurunan pendapatan dari hasil panen. “Kami melihat kurangnya keseriusan pemerintah Bulungan mengatasi berbagai masalah yang dialami petani. Terbukti dari kondisi penanganan petugas yang tidak serius. Kondisi ini bisa terlihat ketika petani mengalami masalah dengan tanamannya, namun penanganannya terlambat. Sehingga para petani sempat merugi,” jelas Dedi. Dedi mengklaim telah mengalami kerugian, akibat serangan hama. Awalnya bisa memanen sebanyak 20 hingga 40 karung untuk lahan setengah hektar, namun kini hanya mampu memanen 10 karung. Itu pun belum tentu semua padi yang dipanennya berisi. vic
|