Diversifikasi Pangan Kurangi Ketergantungan Beras

2012-02-02  18:50:32

SAMARINDA, Kelapa Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Kaltim H Syaiful Akhyar mengatakan, diversifikasi (penganekaragaman) pangan yang dilakukan pemerintah sebagai upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi beras. Apalagi, produksi untuk komoditi beras masih terbatas bahkan hingga saat ini masih mendatangkan dari luar negeri.
“Untuk produksi beras Indonesia ini harus mendatangkan dari negara lain, termasuk Kaltim ini dengan jumlah daerah atau sentra produksi yang terus mengalami penurunanluasan kawasannya tentu akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan beras di daerah,” kata  Syaiful Akhyar, diruang kerjanya beberapa hari lalu
Menurut Syaiafaul, diversifikasi atau penganekaragaman dan pengembangan pangan lokal merupakan salah upaya pemerintah untuk mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rurnah tangga dalam jumlah yang cukup dengan mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata serta terjangkau setiap individu.
Kaltim ini terdiri dari pulau-pulau dengan keragaman sosial, ekonomi, kesuburan tanah dan potensi daerah,. Maka, kondisi dan keunggulan kewilayahan ini memungkinkan untuk tercipta diversifikasi konsumsi pangan.
Karenanya, kebijakan Pemprov melalui BKPP Kaltim untuk melakukan diversifikasi konsumsi pangan bertujuan untuk menurunkan konsumsi beras dengan meningkatkan keaneka-ragaman produksi bahan pangan, segar maupun olahan.
Selain itu,  mengembangkan kelembagaan pangan yang menjamin peningkatan produksi dan konsumsi yang lebih beragam serta mengembangkan bisnis pangan dan menjamin ketersediaan gizi dan pangan bagi masyarakat.
“Masyarakat Kaltim ini untuk konsumsi beras mencapai 113 kilogram perkapita pertahun. Maka, salah satu upaya mengurangi ketergantungan beras dilakukan pengembangan pangan lokal melalui diversifikasi konsumsi pangan,” jelasnya.
Termasuk dilakukannya program kuliner berbasis pangan lokal yang bertujuan untuk mengurangi pemenuhan kebutuhan pokok dengan makan nasi melalui olahan makan ringan (snack) serta kebutuhan konsumsi makanan olahan berbahan baku tepung atau gandum.
Saat ini ujarnya, untuk memenuhi kebutuhan gandum, maka pemerintah harus mengimpor dari negara lain. Tentunya hal ini cukup memberatkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan dengan biaya yang besar.
Dikemukakannya, pemerintah menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras. Program yang menonjol untuk mengkombinasikan beras dengan jagung, sehingga pernah populer istilah ”beras jagung”. Ada dua arti dari istilah itu, yaitu campuran beras dengan jagung dan penggantian konsumsi beras pada waktu-waktu tertentu dengan jagung.
“Namun, tujuan diversifikasi konsumsi pangan lebih ditekankan sebagai usaha untuk menurunkan tingkat konsumsi beras dan diversifikasi konsumsi pangan hanya diartikan pada penganekaragaman pangan pokok tidak pada keanakeragaman pangan secara keseluruhan,” ujar Syaiful Akhyar.
Sehingga banyak bermunculan berbagai pameran dan demo masak-memasak yang menggunakan bahan baku non beras seperti sagu, jagung, ubikayu atau ubijalar. Kedepan, diharapkan masyarakat akan beralih pada konsumsi pangan non beras.mar

Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

KAMIS
KAMIS
New User Login




Video News
To watch this video, you need the latest Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...

 
 
 
 
 
 
 
 
Iklan...
Raih sukses didepan mata
Media promosi online poskota kaltim.com sarana terpercaya untuk mempromosikan usaha anda dalam sekejap akan dilihat oleh dunia

Ucapan Terima Kasih
Segenap Pimpinan dan Seluruh Staff Atas kepercayaan Anda Membuka WebSite Kami

Hotline
Editorial
Solusi
Surat Pembaca
Polling
Berita apa saja yang menurut anda sangat diminati pembaca poskotakaltim
Daerah
pariwisata
hukum
Pendidikan
perekonomian
semua berita
 
total pemilih : 1235 | Lihat Hasil
Pasang iklan anda disini...