Kreatifitas Penyandang Disabilitas

Oleh Abd. Hamid
BALIKPAPAN, Poskota Kaltim
Menyandang cacat fisik bukan berarti kreasi harus terhenti. Namun menjadi fokus untuk menggeluti kreatifitas tertentu dan menjadi handal menekuninya. Melalui tangan-tangan handal dan daya inovasi, beberapa hasil kerajinan tangan dihasilkan penyandang disabilitas (cacat). 
Di salah satu ruangan rumah berlokasi Jl. Wiluyo Puspoyudo No.1 Klandasan Ulu tak jauh dari rumah sakit milik angkatan darat, Rumah Kreatif Balikpapan (RKB) begitu penghuninya memberi nama hasil kreativitas dari limbah non organik tersusun apik. Semua benda-benda seni itu sebagian adalah buah karya penyandang disabilitas.
Mereka dulu dilatih dan kini mahir membuat karya yang tak kalah dari kita yang normal. Kreasi berupa tas, gantungan kunci, baju boneka, keset, tempat komputer jinjing, baju batik dan lainnya adalah jerih upaya dari tangan-tangan terampil yang tak sempurna, tapi karyanya nyaris tanpa cacat.
Yang tak kalah uniknya, karya indah tersebut berasal dari bahan dasar plastik bekas atau bisa disebut sampah yang merupakan limbah non organik.
Nazarudin selaku Ketua Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia (FKPCTI) Balikpapan mengungkapkan, bagi komunitas yang didalamnya dihuni penyandang cacat tidaklah mudah pada awalnya untuk mendapat akses ekonomi agar dirinya bersama rekan sesama disabilitas lebih mandiri. Berbekal kemauan keras dan keinginan untuk tidak bergantung pada orang lain, anggota komunitas disabilitas di RKB semakin menunjukan eksistensinya, bahwa tiada hari tanpa kreativitas.
Komunitas disabilitas ini berhasil membuat batik motif Balikpapan yang terkenal dengan nama Jajaran Buah Mangrove. Pewarnaan dari batik tersebut menggunakan pewarna ramah lingkungan dengan limbah buah mangrove. Batik motif tersebut saat ini sudah menjadi baju resmi para pimpinan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Balikpapan dan menjadi icon batik Balikpapan
 “Untuk batik tulis sendiri, kreativitas penyandang disabilitas memiliki keunggulan. dimana semua bahan pewarna berasal dari alam, baik akar-akaran dan tumbuhan pewarna yang tumbuh dihutan Kalimantan,” terang Nazarudin yang juga ketua  Komunitas Batik Tulis Mangrove.
Sementara itu, menurut Juliadi, salah satu anggota RKB menyebutkan, manfaat bergabung dalam RKB dengan peyandang disabilitas lain,dirinya  lebih dapat berbagi dan saling belajar. Sehingga satu dan lainnya memiliki ketrampilan dan semakin kreatif. Saat ini lanjutnya, anggota yang ada di RKB saat ini berjumlah sekiatar 30 anggota yang terdiri dari 21 anggota disabilitas dan 9 anggota dari ibu-ibu PKK sekitar wilayah kerja Chevron.
Segala kreasi yang berada di RKB merupakan cipta karsa seluruh anggota. Namun untuk memproduksinya, anggota dapat melakukan di rumah dan setelah jadi, mereka memajang di RKB untuk dipromosikan sekaligus dijual.
 “Teknis pekerjaannya dalam memproduksi kerajinan bukan hanya di RKB, tetapi bisa pula dikerjakan di rumah anggota pengrajin,” ujar Juliadi
Sementara itu, pihak Chevron merangkul penyandang disabilitas sangat memahami, bila para penyandang disabilitas adalah kelompok rentan yang jarang diperhatikan orang. Perusahaan berusaha memberdayakan dan menghadirkan sarana kreatifitas bagi mereka, sehingga  mereka berdaya guna di RKB.
RKB juga memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat khususnya warga binaan. Keberadaannya bertujuan meningkatkan kapasitas  penyandang disabilitas dan ibu-ibu rumah tangga
Community Engagement (CE) Specialist Chevron, Etty Nuzuliyanti mengatakan, tujuan dari program RKB diantaranya mendukung program pemerintah yang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kemampuan pelaku usaha mikro-kecil masyarakat. Bukan itu saja, bahkan hasil kerajinan batik dan limbah non-organik para kaum penyandang disabilitas sudah mengikuti pameran baik di lingkungan Chevron, Pemkot Balikpapan, bahkan sampai ke Jakarta bekerjasama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Balikpapan. Bahkan  mereka juga dilatih bahasa asing untuk meningkatakn kemampuan komunikasi dengan pembeli yang berasal dari luar negeri.
“Selain mereka diberikan kesempatan berkreasi di RKB dan diberikan pelatihan keterampilan, mereka juga diberi pendidikan Bahasa Inggris. Kegiatan belajar Bahasa Inggrsi dilaksanakan seminggu dua kali pada hari Selasa dan Kamis”ujar Etty.
Sebagai bentuk kepedulian pelestarian budaya dan menjaga keberlangsungan batik khas Balikpapan, RKB juga membuka kesempatan masyarakat umum untuk belajar membatik. Sejak beberapa waktu lalu RKB telah membuka kelas membatik untuk pemula yang terbuka bagi masyarakat atau wisatawan. Setiap sesi kelas akan melakukan 8 kali pertemuan dengan biaya terjangkau.
RKB saat ini sedang menjajaki pelaksanaan program pelatihan untuk sekolah yang ingin memberi tambahan ekstrakurikuler bagi siswa-siswinya. Semakin banyak masyarakat Balikpapan yang berketerampilan membatik, semakin kaya khazanah budaya daerah yang pada akhirnya turut serta melestarikan kekayaan kreatif bangsa Indonesia.
Apresiasi kreativitas penyandang disabilitas dan hadirnya RKB di berikan Walikota Balikpapan, Rizal Effendi. Pihaknya menyambut baik dengan adanya Rumah Kreatif Balikpapan. Rizal sangat berharap, kedepan Balikpapan bisa memproduksi batik sendiri melalui kreativitas tangan-tangan terampil penyandang disabilitas.

Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim


New User Login




Video News
To watch this video, you need the latest Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...

 
 
 
Iklan...
Raih sukses didepan mata
Media promosi online poskota kaltim.com sarana terpercaya untuk mempromosikan usaha anda dalam sekejap akan dilihat oleh dunia

Ucapan Terima Kasih
Segenap Pimpinan dan Seluruh Staff Atas kepercayaan Anda Membuka WebSite Kami

Hotline
Editorial
Solusi
Surat Pembaca
Polling
Berita apa saja yang menurut anda sangat diminati pembaca poskotakaltim
Daerah
pariwisata
hukum
Pendidikan
perekonomian
semua berita
 
total pemilih : 2407 | Lihat Hasil
Pasang iklan anda disini...