DKP Kukar Uji Kadar Air Kolam Eks Tambang KM 14Kematian Ikan Keramba Karena Kekurangan Oksigen 2010-08-12 09:16:34
TENGGARONG- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara, Senin (9/8) melakukan pengujian terhadap kadar air lokasi keramba ikan di kolam eks tambang batu bara KM 14 Loa Ipuh Darat Kecamatan Tenggarong. Pengujian tersebut dilakukan demi mengetahui penyebab matinya ikan keramba secara massal yang terjadi di kolam eks tambang dimaksud. Untuk pengujian, DKP menurunkan dua orang pakar budidaya perairan dari Universitas Mulawarman Samarinda, Asfi dan Fahmi yang dibantu sejumlah tenaga teknis dari DKP sendiri yang dipimpin langsung Kepala DKP Kukar, M Syahran. Hasil uji menunjukan bahwa matinya ikan keramba di kolam eks tambang Km 14 tersebut akibat kekurangan oksigen atau kadar DO (udara terlarut dalam air) yang di bawah ambang normal. Pada permukaan air sekitar keramba, DO air masih normal, yakni 4,6 ppm (normal: 4 ppm). Sedangkan pada kedalaman setengah meter 1,8 ppm dan kondisi lebih parah saat uji dilakukan pada kedalaman 1,5 meter, dimana kadar udara terlarut dalam air hanya 0,5 ppm. Dengan kondisi demikian, secara otomatis ikan dalam keramba tidak mendapat asupan oksigen sebagaimana mestinya, sehingga berakibat pada kematian ikan secara massal. "Berdasarkan hasil uji yang kita lakukan, penyebab kematian ikan karena kekurangan oksigen," kata Asfi Senin (9/8). Menjawab pertanyaan Poskota Kaltim mengenai permasalahan apa yang menyebabkan kadar udara terlarut dalam air itu menurun, dijelaskan ada beberapa hal, salahsatunya disebabkan naiknya air dasar kolam yang sudah terkontaminasi oleh pembusukan sisa pakan ikan yang mengendap di dasar kolam. Pembusukan sisa pakan ikan padat protein dalam waktu lama hingga bertahun-tahun itu menciptakan NH3 yang bersaifat racun bagi ikan karena menghabiskan udara yang terlarut dalam air. Hal itu lazim terjadi pada keramba di kolam yang airnya tidak berarus layaknya air sungai. Penyebab lain penurunan kadar udara terlarut dalam air adalah pembusukan tumbuhan rumput yang juga ada di dasar kolam. Untuk faktor ini kasusnya sama dengan kasus bangar di perairan sungai (Sungai Mahakam), dimana tumbuhan rumput (gulma) yang berada di tiga danau wilayah hulu Sungai Mahakam membusuk saat musim hujan dan air yang kadar udara terlarut dalam airnya kurang akibat pembusukan gulma itu (bangar) hanyut terbawa arus hingga wilayah hilir. Air bangar tersebut menyebabkan kematian pada ikan-ikan keramba yang dilewatinya. Sebagai solusi, petani keramba di lokasi Km 14 diminta untuk menyetop sementara penaburan benih khususnya untuk jenis ikan mas dan nila hingga kondisi air kembali normal. Agar usaha petani keramba tetap jalan, sementara mereka disarankan menabur benih ikan jenis lain yang lebih tahan, diantaranya ikan patin, biawan atau jenis ikan lainya selain ikan mas dan nila. Petani keramba juga disarankan agar tidak terus menambah jumlah keramba di lokasi dimaksud, karena kemampuan air kolam tersebut memiliki batasan. Berdasarkan data, saat ini keramba di lokasi kolam dengan luas lebih kurang 60 an hektar itu terdapat 180 keramba. Sementara mengenai kandungan logam berat sebagaimana pemberitaan media cetak lokal, dikatakan tidak ada kandungan logam berat, karena menurutnya memang tidak ada aktivitas penggunaan mercury di lokasi itu. Satu hal yang menurut Asfi perlu disampaikan adalah bahwa kandungan logam berat berlebihan tidak menyebabkan kematian pada ikan, melainkan berpengaruh pada kesehatan. Tapi, lanjutnya, perlu juga diketahui bahwa berdasarkan hasil uji, daging ikan pada kolam eks tambang tidak mengandung logam berat, sehingga layak untuk di konsumsi. Kepala DKP Kukar, M Syahran yang juga turun lapangan saat uji kadar air mengatakan bahwa uji itu dilakukan untuk mempertegas penyebab kematian ikan yang berdasarkan fakta, sehingga masyarakat tidak merasa ragu bahkan takut mengkonsumsi ikan hasil budidaya kolam eks tambang. yd
|