Mimpi Nikmati Listrik 24 Jam BuyarTiga Kelurahan Kecewa PLN Menyerah
2010-08-18 15:37:28
PENAJAM- Krisis listrik di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berlum berakhir, ini terbukti masih ada tiga kelurahan yang letaknya memang sangat jauh dari pusat kota Penajam Kabupaten PPU, terutama dari pusat pembangkit listrik di Simpang Tiga Silkar membuat tiga keluarahan ini melirik kelebihan listrik milik perusahan perkayuan PT Ine Dhong Hwa, untuk membagi ‘kebahagian’ dengan menjual kelebihan pasokan listrik kepada masyarakat. Tiga kelurahan yang tengah dilanda krisis listrik terdiri dari Kelurahan Gersik, Jenebora, dan Pantailango, ketiganya masuk wilayah Kecamatan Penajam yang memang cukup berdekatan dengan perusahan kayu milik Korea Selatan ini, keinginan masyarakat tiga kelurahan ini agar mereka bisa menikmati listrik selama 24 jam penuh sama dengan wilayah lain di PPU. Namun hasil pertemuan antara PLN ranting PPU, warga tiga kelurahan dengan perusahan perkayuan itu sepertinya menemui jalan buntuh, karena pihak PLN yang diminta untuk membeli kelebihan daya listrik dari perusahaan itu tidak mampu karena harga jualnya mahal dari perusahan sedangkan perhitungan ketika akan menjual ke masyarakat juga akan lebih mahal lagi akhirnya pertemuan belum membuahkan hasil. PLN tidak mungkin membeli kelebihan daya listrik dari perusahaan perkayuan PT Ine Dhong Hwa, dengan harga tinggi karena harga beli dan harga jual ke masyarakat sangat tidak imbang sehingga dipastikan pihak PLN akan mengalami kerugian dalam jumlah besar karena permintaan pihak perusahan perkayuan itu terlalu tinggi sehingga diperhitungkan dengan harga jual kepada pelanggan atau masyarakat PLN tetap akan mencatat kerugian besar,” kata Lurah Gersik Anang Widianto, yang dihubungi media ini kemarin. Manajer Umum PT Inne Dongwha Jenebora, Kim Gun Tae saat dihubungi harian ini belum menjawab pertanyaan mengenai keinginan masyarakat tersebut, menurut staf PT Ine Dhong Hwa, bosnya sedang sibuk mengurus salah satu anaknya yang sedang sakit di RS Restu Ibu Balikpapan. Hanya saja, sumber internal pada perusahaan Korea-Indonesia (Korindo) Grup itu, bakal tidak terjadi kesepakatan karena harga jual kelebihan daya listrik tidak terdapat titik temu, harga beli dari kelebihan listrik Inne Dongwha jauh lebih mahal daripada harga jual PLN ke masyarakat. Listrik yang dihasilkan perusahaan menggunakan bahan bakar solar kelas industri, yang harga belinya juga sangat mahal, kendati demikian, Anang Widianto bersama dua lurah lainnya tetap berusaha untuk mencarikan solusi dengan harapan masyarakatnya tetap menikmati listrik, kemarin, ia mengaku sedang membuat konsep masih terkait listrik perusahan perkayuan itu dengan harapan agar masyarakat tetap bisa mendapatkan pasokan listrik selama 24 jam. Sejauh ini, masyarakat di tiga kelurahan itu sudah 15 tahun ini tidak mendapatkan pelayanan listrik secara maksimal, selama ini listrik PLN hanya menyalah pukul 18.00 sampai 6.00 Wita pagi atau hanya 12 jam saja, kami berharap dengan pasokan kelebihan daya di perusahan kayu itu bisa didistribusikan kemasyarakat tiga kelurahan sehingga listrik bisa menyalah 24 jam. Untuk diketahui Perusahaan Korindo Grup memiliki turbin berkapasitas 6 megawatt ditambah mesin pembangkit merk Caterpilar 4 buah yang kapasitasnya 2.500 KVA, dan ditambah satu lagi mesin pembangkit bermerk Yanmar 2 buah berkapasitas 1.000 KVA, saat pertemuan sebelumnya, Kim Geun Tae menyambut positif keinginan masyarakat tersebut, namun hingga kemarin perusahaan belum memberikan jawaban konkret mudah-mudahan ada perkembangan baru mendatang. max
|