Irsani Nominasi Penerima Setyalencana Kalpataru2010-08-25 13:22:12
TANJUNG REDEB – Untuk menentukan layak dan tidaknya M Irsani penangkar Buaya Badas dan pemerhati lingkungan mendapat penghargaan Setyalancana Kalpataru 2010, tim ferivikasi dari Jakarta, Selasa ( 24/8) berkunjung ke Kabupaten Berau. Jika Irsani menang, pada Tanggal 5 November nanti dipastikan akan menerima penghargaan Setyalancana Kalpataru dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tim ferivikasi yang terdiri dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Kaltim Lilyk, Biro Tanda Jasa Kepresidenan Yafet y Hia, utusan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Prayetno Sahri dan Wawan Sopian ini, selain melihat hasil kepedulian Irsani, tim ini langsung menyaksikan hasil tangkaran buaya badas milik Irsani yang terletak di belakang rumahnya, di Jalan Raja Alam I Sambaliung. Sebelumnya, Irsani mengaku tidak mengetahui jika usahanya selama ini melestarikan alam dan satwa langka masuk nominasi calon penerima penghargaan Setyalancana Kalpataru dari Presiden RI. Karenanya ketika dia mendapat kabar dari BLH Berau kemarin, sontak kaget, lantaran tak meyangka jika ada tim dari pusat Jakarta yang bakal melihat dan langsung memberikan penilaian kecintaannnya terhadap lingkungan dan satwa langka. Dihadapan tim ferivikasi, Irsani mengaku telah melakukan kerja sama dengan salah satu perusahaan tambang batubara, melakukan reklamasi lahan eks tambang batubara, yang sedikitnya seluas 25 hektare setahun yang lalu. “Saya tidak ingin perusahaan – perusahaan tambang batubara yang beroperasi di Berau setelah kontraknya habis, setelah itu mereka pulang meninggalkan bencana bagi masyarakat Berau. Kalau bukan kita – kita ini yang peduli terhadap lingkungan, siapa lagi,” jelasnya. Selain itu, dia juga memanfaatkan lahan tidur di daerah Sambaliung seluas 10 hektare, dengan berbagai jenis tanaman buah – buahan. Diantaranya buah langsat, rambutan, pisang, pepaya, duku hingga buah durian. “ Sayang kalau tidak dimanfaatkan lahan tidur, kalau ditanami begitu kan manfaatnya bisa dirasakan,” ujarnya. Sehubungan dengan kecintaannya terhadap buaya, mantan Camat Kelay ini mengaku saat ini kewalahan memelihara binatang buas tersebut. Selain biaya hidupnya, tempatnya pun juga demikian. Pasalnya, tempat penampungan dengan jumlah buaya yang di pelihara tidak sebanding. “Pernah saya hitung dalam setahun biaya operasional melestarikan 300 ekor buaya ini ketemunya kurang lebih Rp 100 juta. Tapi Alhamdulillah rejeki itu ada saja, sehingga buaya – buaya yang saya pelihara sehat – sehat semua,” paparnya. Ia mengaku pernah dibantu biaya operasionalnya oleh Pemkab Berau, tetapi hanya sekali, itu pun hanya Rp 15 juta sekitar dua tahun yang lalu. Oleh sebab itu dia berharap kepada Pemkab Berau ataupun perusahaan yang beroperasi di Bumi Batiwakal memberi dukungan demi melestarikan alam dan satwa yang hampir punah ini. roz
|