Kaltim Tolak Harga Elpiji Naik2010-08-31 16:51:46
SAMARINDA-Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Kaltim menolak dan protes keras rencana pemerintah pusat untuk menaikkan harga gas elpiji ukuran 3 kilogram yang akan dimulai pekan depan. Penegasan itu disampaikan Kepala Disperindagkop dan UMKM Kaltim H Yadi Sabianoor ketika dikonfirmasi kemarin. Menurutnya, kenaikan itu sangat berdampak negatif bagi masyarakat, terutama Kaltim. Sebab, melihat kondisi yang terjadi saat ini, maka pemerintah kurang tepat untuk melakukan kenaikan tersebut. “Pemprov Kaltim tentunya protes keras terhadap rencana kenaikan gas elpiji jelang lebaran minggu depan ini. Sebab, hal ini akan berdampak terhadap lonjakan harga-harga lainnya,” ujar Yadi Sabiaanoor ketika dikonfirmasi melalui pesan SMS-nya, Senin (30/8). Dikatakannya, jika harga elpiji tetap dinaikkan pekan depan, maka hal itu juga akan berdampak pada kenaikan komoditi lainnya. Di mana pekan depan masyarakat lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan menjelang Hari Raya Idul Fitri. “Saya yakin, komoditi lainnya juga akan naik, sehingga ini akan memberatkan masyarakat. Padahal, sebelumnya, masyarakat juga sudah menerima kenaikan TDL, kemudian disusul naiknya kebutuhan anak sekolah ajaran baru. Jadi, saya pikir kenaikan harga elpiji tersebut akan berdampak besar bagi ekonomi masyarakat,” jelasnya. Selain itu, lanjutnya, kenapa kenaikan gas elpiji ini tidak dilakukan sejak awal, sehingga tidak terjadi disparitas harga terlalu jauh antara tabung gas 3 kilogram dan 12 kilogram. “Saya pikir upaya ini adalah tindakan membodohi masyarakat, yang menjadi korban lantaran sudah melakukan konversi dari minyak tanah,” tegasnya. Sebagai tindak lanjut hal ini, Yadi mengatakan, Pemprov Kaltim melalui Disperindagkop dan UMKM Kaltim akan secepatnya menyurati pemerintah pusat melalui Menko Kesra untuk meminta penundaan kenaikan harga elpiji sampai setelah Lebaran. “Meski belum memperoleh informasi berapa besaran kenaikan harga gas elpiji oleh pemerintah pusat, namun Pemprov Kaltim lebih menginginkan tidak ada kenaikan harga sama sekali, karena kenaikan harga elpiji 3 kilogram menjelang lebaran, baik hanya seribu atau dua ribu rupiah, tetap saja akan menyiksa rakyat,” timpalnya. Menurutnya, masyarakat telah ketergantungan dengan Gas. Oleh karena itu, hingga saat ini masyarakat tidak ada pilihan, kecuali mengggunakan Gas Elpiji. “Coba saja, ketika konversi gas elpiji sejak dari awal harganya dinaikkan, misalnya yang ukuran 3 kilogram itu mencapai Rp 20 atau 25 ribu lah dipasaran, sehingga jangan sampai harga itu ada disparitas dengan ukuran 12 kilogram. Jadi, kenaikannya tidak jauh dengan harga yang 12 kilogram yang mencapai Rp 80 ribu. Nah, sekarang masyarakat telah ketergantungan dengan Gas, minyak tanah sudah kurang diminati. Jika demikian, maka hal ini akan berdampak besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, secepatnya Pemprov Kaltim akan menindaklanjutinya,” bebernya. Meski demikian, lanjutnya, masyarakat jangan terpicu dengan kenaikan harga tersebut. Yadi mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan permasalahan itu. “Insya Allah, secepatnya Pemprov Kaltim akan menyikapinya. Mudah-mudahan kenaikan tersebut bukan menjelang lebaran. Jika, setelah lebaran mungkin masyarakat bisa terima. Mudah-mudahan demikian,” pungkasnya.mar
|