SBY Dinilai Gagal Mengemban Amanat Rakyat2003-01-01 03:27:40
SAMARINDA-DPD Persatuan Intelegensial Kristen Indonesia menilai Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono telah gagal mengemban amanat rakyat Indonesia. Dan, kasus penusukan dan pemukulan warga Jemaat HKBP Pondok Timur Indah Bekasi merupakan contoh kegagalan SBY. Mengingat, Undang-Undang menyebutkan bahwa negara menjamin warga negara untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dan, ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun sejak adanya kesepakatan bersama para menteri, yakni menteri agama dan mendagri Nomor: 9 tahun 2006 dan nomor : 8 tahun 2006 membuat keberagaman kerukunan umat beragama menjadi terpecah. "SBY telah gagal memelihara kerukunan umat beragama dan pendiriaan rumah ibadah. SBY gagal menjalankan amanat UUD 1945 tentang kebebasan beragama, sehingga tidak memberikan rasa aman dan adil kepada warga negara," kata Ketua DPD Persatuan Intelegensial Kristen Indonesia Yulianus Henock Sumual kepada wartawan di Hotel Gran Victoria Kamis (16/9) kemarin. Atas dasar itu lanjut Yulianus, umat Kristiani Kaltim mengecam aksi penusukan dan pemukulan terhadap jemaat HKBP yakni Sintua Hasian Sihombing dan Ibu Pendeta Luspida Simanjuntak. Yulianus mengatakan peristiwa itu merupakan teror yang tak berperikemanusiaan dan menorehkan luka baru bagi bangsa Indonesia. Yulianus menegaskan pihaknya meminta pemerintah segera mencabut peraturan bersama menteri Agama dan Mendagri, karena dinilai tidak mampu memelihara kerukunan antar umat beragama. Selain itu, menurut dia, Peraturan Menteri itu dinilai dapat melahirkan konflik-konflik lain didaerah, khususnnya mengenai kebebasan untuk beribadah sesuai kepercayaan masing-masing. Umat Kristiani Kaltim, lanjut Yulianus juga meminta Presiden RI segera memerintahkan Kapolri mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk kekerasan mengatasnamakan agama. Lanjutnya, Pemerintah juga harus memberikan perlindungan kepada warga negara dari ancaman kekerasan khususnya ketika menjalankan Ibadah. Pada kesempatan itu Yulianus juga meminta umat kristiani tidak terprovokasi oleh peristiwa di Bekasi, dan senantiasa tetap menjaga kerukunan antar umat beragama di Propinsi Kaltim. Yulianus mengatakan, bahwa pernyataan sikap yang diutarakan bukan merupakan gerakan spontanitas yang dipeloporinnya. Pernyataan sikap ini adalah bentuk keprihatinan umat Kristiani Kaltim, dan bukan untuk kepentingan pribadi orang per orang. "Ini memang terkesan terburu-buru, namun ini telah berdasarkan kesepakatan para pembina gereja melalui persekutuan gereja-gereja wilayah Kaltim dan Badan kerjasama gereja-gereja kota Samarinda," katannya. M4n
|