PIK-KRR Jadi Pendukung Peningkatan Kualitas Generasi2010-09-20 15:42:51
SAMARINDA-Sekarang ini, jumlah remaja berusia 10-24 tahun secara nasional tak kurang dari 64 juta jiwa. Berarti, jika total penduduk Indonesia saat ini 226 juta jiwa, proporsinya mencapai 28,32 persen. Untuk merespon permasalahan remaja, pemerintah melalui BKKBN, telah melaksanakan dan mengembangkan program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Diarahkan untuk mewujudkan Tegar Remaja dalam rangka Tegar Keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Untuk memantapkan program tersebut, Senin (20/9) di RM Rosty digelar pertemuan dan pemantapan program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), bagi pengelola PIK-KRR sebanyak 42 orang se Kab/Kota se-Kaltim. Dibuka oleh Kepala BKKBN Kaltim HM Idrus Sebbu. Juga menghadirkan, Kasubdit Pembinaan Remaja Jalur Sekolah Direktorat Remaja dan PHR BKKB Pusat, Drs Syaifudin MSc. Tujuan kegiatan tersebut, untuk terciptanya dukungan pencapian kualitas peningkatan jumlah PIK-Remaja pada basis PT/Akedemisi, basis sekolah umum, organisasi keagamaan dan LSM kepemudaan. “Nantinya para peserta dapat mendiskusikan masalah-masalah yang dijumpai dalam pelaksanaan program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR) baik tingkat provinsi dan kota,” kata Panpel Harlan Lelana. Untuk diketahui berdasarkan data, diantara, 2.5 juta pernah melakukan aborsi per tahunnya, 27 persen dilakukan oleh remaja yakni sekitar 700 ribu dilakukan dengan cara tidak aman. Ironisnya lagi 3,2 jiwa penguna narkoba 78 persen diantaranya adalah remaja antara usia 20-29 tahun. Sedangkan penularannya, sebesar 10.384 kasus, melalui Injection Drug User (IDU) 49.5 persen, heteroseksual 42.0 persen dan homoseksuel 4 persen. Sedangkan dari segi umur tertinggi usia 20-29 tahun (53.8 persen), usia 15-19 tahun sebanyak 2.5 persen. Tentunya, perilaku pergaulan bebas tersebut dapat berdampak pada terjadi hubungan seks bebas, terjangkitnya penyakit HIV/AIDS dan penyalahgunaan Narkoba. Namun hal itu dapat disebabkan berbagai faktor Salah satunya karena hubungan antara anak dan orang tua makin renggang. Untuk itu, kata dia, solusinya adalah BKKBN membuat program Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Kesehatan reproduksi Remaja (KRR) di setiap kelurahan, tentunya yang dilakukan oleh teman sebayanya. Disebutkannya, jika dilakukan oleh teman sebaya biasanya mereka lebih terbuka, memperhatikan dan mendengarkan ketika diberi pengertian ketimbang disampaikan oleh orang tua maupun guru. Sebab, untuk memasuki kedunia remaja maka perlu mengikuti perkembangan para remaja sekarang, misalnya harus mengetahui bahasa-bahasa gaul para remaja, sehingga mereka tertarik untuk mengikuti PIK KRR,” katanya.john
|