Pemkab Kukar Tetapkan Jumat Hari BudayaPegawai Diimbau Pakai Baju Adat Daerah 2010-09-28 10:11:36
TENGGARONG- Sebagai bentuk komitmen memelihara budaya daerah, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menetapkan hari Jumat sebagai Hari Budaya, dimana pada hari tersebut seluruh pegawai di lingkungan pemkab diminta menggunakan baju adat daerah, yakni baju Miskat (baju adat Kutai) yang merupakan salah satu pakaian di lingkungan Kesultanan Kutai ing Martadipura. "Untuk memelihara budaya daerah, pemerintah berkomitmen untuk menetapkan hari budaya, yakni hari dimana para pegawai mengenakan pakaian adat daerah guna menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Kukar, maka pemakaian baju Miskat dicanangkan untuk dugunakan setiap hari Jumat," pinta Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Bupati menyampaikan hal itu saat membuka pagelaran Karnaval Pesona Purnama Mahakam,Senin (27/9) malam di lapangan parkir penyeberangan Pula Kumala Tenggarong. Untuk pemakaian baju adat dimaksud, bupati mengatakan tidak hanya bagi pejabat dan seluruh pegawai di lungkungan pemkab, tapi nantinya akan diteruskan pula kepada instansi vertikal dan pihak swasta seperti Perbankan, Perusda dan Perusahaan lainya yang beroperasi di Kukar. Sehingga suasana budaya daerah tetap melekat dalam aktivitas masyarakat. Hal itu sejalan dengan keinginan Kukar menjadikan seni budaya sebagai salah satu potensi obyek wisata daerah. Untuk diketahui, ratusan masyarakat Kota Tenggarong memenuhi lokasi di sepanjang Jl KH Akhmad Muksin untuk menyaksikan malam pagelaran Karnaval Pesona Purnama Mahakam. Acara yang baru pertama kali dilaksanakan itu dalam rangka memperingati HUT ke-228 Kota Tenggarong yang diperingatai tiap 28 September. Kegiatan yang dibuka Bupati Rita Widyasari itu selain dihadiri Wakil Bupati HM Ghufron Yusuf, Sekkab Haryanto Bachroel dan Kerabat Kesultanan, serta Kepala SKPD dilingkup Pemkab Kukar, juga hadir Bupati Minahasa, Sulawesi Utara, Mecky M Onibala bersama istri dan rombongan. Dalam sambutanyam Rita Widyasari mengatakan Tenggarong telah menjadi kota yang dapat memberikan harapan bagi penduduknya sebagai kawasan yang cukup nyaman dihuni. Peningkatan sarana dan prasaran kota yang lebih lengkap, lanjutnya, akan menjadi perhatian pemerintah daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan serta hajat hidup masyarakat, serta kelestarian lingkungan hidup secara berimbang. Menurut bupati, satu hal yang melekat dengan kota ini adalah terpeliharanya berbagai kegiatan seni budaya daerah. Festival Erau yang berlangsung setiap bulan Juli misalnya, mencerminkan acara adat Kesultanan Kukar Ing Martadipura. Sedangkan pentas seni budaya selama festival tersebut menyajikan berbagai kesenian daerah, termasuk paguyuban-paguyuban yang ada di Kukar. "Pagelaran budaya semacam ini merupakan wadah untuk mengekspresikan kekayaan budaya yang ada di Kukar," kata bupati.yd
|