Pemprov Kaltim Terima Penghargaan dari MendiknasBerhasil Turunkan Angka Buta Aksara
2010-10-12 05:14:57
BALIKPAPAN-Pemprov Kaltim kembali mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mampu menurunkan angka buta aksara cukup signifikan. Dibuktikan dengan diberikannya penghargaan kepada Gubernur Kaltim, Dr H Awang Faroek Ishak sebagai daerah yang berhasil melaksanakan program pemberantasan buta aksara kategori madya. Penghargaan tersebut diberikan Menteri Pendidikan Nasional, H Mohammad Nuh pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-45 yang berlangsung di Sport and Convention Center Balikpapan, Minggu malam (10/10). Penghargaan juga diberikan pada sejumlah Gubernur, Bupati dan Walikota se-Indonesia, kalangan swasta, pengelola lembaga keterampilan dan wartawan yang dianggap berjasa dalam upaya pemberantasan buta aksara di Indonesia. Sejumlah kepala daerah selain Awang Faroek yang menerima penghargaan, yakni Walikota Balikpapan, H Imdaad Hamid, Walikota Samarinda, H Achmad Amins dan Bupati Kutai Kartanegara, Hj Rita Widyasari. Dalam sambutannya, M Nuh mengatakan Indonesia terus berupaya menurunkan tingkat kebuta aksaraan dari 5,3 persen atau 8,7 juta penduduk pada 2010 menjadi 4,2 persen atau 6,7 juta orang pada 2014. Berbagai upaya yang dilakukan antara lain berupa menggiatkan dan menggandeng organisasi masyarakat dari pemerintah pusat, daerah, kabupaten/kota hingga melibatkan oartisipasi organisasi antara lain Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan organisasi kemasyarakatan lain. Dengan thema “Aksara Membangun Keadaban dan Karakter Bangsa,” diharapkan peringatan Hari Aksara ini dapat menjadi momentum bagi semua provinsi di Indonesia berlomba-lomba dan terus berkomitmen memberantas buta aksara dengan berbagai program pendidikan. “Saat ini provinsi yang memiliki tingkat buta aksara tertinggi masih berada di Jawa Timur, Sedangkan di Kaltim tingkat kebutaaksaraannya cukup bagus karena hanya tinggal lebih kurang 33 ribu orang saja. Tingkat kebutaaksaraan yang terbesar pada usia 45 hingga 65 tahun. Karena kelompok usia inilah yang paling sulit belajar membaca dan menulis,” ujarnya. Menurut M Nuh, keaksaraan tidak hanya ketika orang dapat membaca atau memahami simbol-simbol yang terdapat pada suatu tulisan, tetapi dengan melek huruf, seseorang dapat mengembangkan diri dan pengetahuan melalui apa yang telah dibaca. “Keaksaran bukan saja membaca dan menulis tetapi lebih merupakan alat penopang utama budaya dan sosial masyarakat. Sehingga saya berterima kasih kepada seluruh kepala daerah seluruh Indonesia yang telah berhasil dalam menekan angka buta aksara dan memberikan perhatian lebih baik pada dunia pendidikan, sehinga dengan begitu angka buta aksara khususnya di daerah dan umumnya di Indonesia dapat ditekan dari jumlah sebelumnya,"paparnya.mar
|