Tim Survei Dibekali Pelatihan EHRAMenuju Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
2010-10-14 05:15:42
SAMARINDA—Tim Survei Environmental Health Risk Assessment—EHRA (Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan) kota Samarinda yang terdiri dari 53 enumerator dari unsur kader Puskesmas perwakilan dari 53 kelurahan dan 12 supervisor yang tiap 2 orang akan ditempatkan di masing-masing 1 kecamatan dari 6 kecamatan di Samarinda. Pelatihan Enumerator Survei EHRA kota Samarinda oleh Tim Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) sehubungan dengan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP) dilaksanakan selama 2 hari, 13-14 Oktober di ruang utama Balaikota, dengan menghadirkan fasilitator PPSP propinsi dari Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS) Adi Sudarmanto. Kepala Bappeda Kota Samarinda H Ali Fitri Noor ketika membuka pelatihan mengakui upaya pengendalian lingkungan adalah sesuatu hal yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk diimplementasikan. Namun demikian sebutnya pemerintah tentunya tidak hanya tinggal diam, dengan beragam langkah terobosan terus dilakukan, khususnya dalam hal pengelolaan sampah dan sanitasi berbasis rumah tangga. ”Salah satunya melalui kegiatan pelatihan hari ini dalam menyiapkan tim Survey penilaian resiko kesehatan lingkungan. Harapan kita bukan hanya menjadi tim survei saja, namun mampu menjadi pioner dalam menjaga lingkungan,” katanya. Lebih lanjut dalam arahannya Ali menyebut kegiatan tersebut merupakan program nasional, dan Samarinda merupakan satu diantara 32 kota di tanah air yang telah dipercaya untuk melakukan program percepatan pembangunan sanitasi permukiman sebagai upaya pengendalian lingkungan ini. Sementara Fasilitator PPSP Adi Sudarmanto dalam paparannya menjelaskan pelatihan ini rangkaian penyusunan Buku Putih bagi kabupaten/kota peserta program PPSP 2010. Dijelaskannya EHRA adalah sebuah survei partisipatif di tingkat kota yang bertujuan untuk mengetahui kondisi sarana dan prasarana sanitasi, kesehatan/higinitas, serta perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi dan advokasi di tingkat kota hingga kelurahan. “Studi ini untuk melengkapi/menyempurnakan data primer tentang sanitasi dan higinitas di tingkat kelurahan yang dianggap tidak memadai. Tujuannya mendapatkan gambaran jelas tentang sarana dan prasarana sanitasi dan perilaku masyarakat yang berisiko terhadap kesehatan tingkat kota berdasarkan data primer,” ucapnya. Studi EHRA di antaranya untuk mengetahui sumber air (minum, cuci, mandi, kelangkaan air), perilaku cuci tangan pakai sabun, pembuangan sampah (cara utama, frekuensi pengangkutan, pemilahan), jamban dan perilaku buang air besar (BAB); Pembuangan kotoran anak, dan kondisi jalan dan drainase serta pengalaman banjir. Dalam pelatihan itu juga dihadiri fasiltator PPSP kota Samarinda Rooswarini dan tim Pokja AMPL kota Samarinda. hms2/adv
|