Kembangkan Komoditas Lokal Unggulan Khas KutaiBuah Lai Mulai Rambah Pasar Luar Negeri
2010-10-18 05:59:59
KABUPATEN Kutai Kartangara memiliki komoditas lokal unggulan sektor hortikulruta, yakni buah Lai yang merupakan buah khas daerah. Buah Lai atau dalam bahasa latin "Durio Kutei Nensis" adalah sejenih buah durian yang asli berasal dari daerah Kutai. Buah berwarna orange kekuningan itu memiliki beberapa kelebihan dibanding buah durian yang banyak dikenal, yakni tidak berbau tajam dan daging buahnya tebal berwarna kuning kemerahan. Rasanya juga enak dan khas. Satu hal yang paling penting adalah daging buahnya yang tidak mengandung gas tinggi seperti buah durian umumnya. Bagi kalangan yang bermasalah dengan tekanan darah atau darah tinggi, tidak perlu khawatir jika mengonsumsi buah Lai. Buah Lai ini jarang atau boleh dikata tidak tumbuh di daerah lain selain Kalimantan khususnya wilayah Kutai, karena iklim yang berbeda.Jika harus terpaksa tumbuhpun kemungkinan rasa dan kualitasnya akan berbeda. Di Kukar sendiri, Lai banyak dikembangkan masyarakat petani wilayah Kecamatan Loa Janan darat, tepatnya di Desa Batuah. Di Desa Batuah terdapat ratusan jenis Lai dan dari sekian jenis buah Lai tersebut, ada 15 jenis Lai unggulan dan tiga jenis Lai yang sudah mendapat pengakuan dan bersertifikat (berlabel), salahsatunya Lai Mahakam. Demi melestarikan komoditi lokal unggulan ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kukar menetapkan Loa Janan sebagai sentra pengembangan tanaman Lai. Masyarakat petani di Desa Batuah merupakan tempat penangkaran tanaman pohon Lai yang berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan, kini di Desa Batuah terdapat 500 an hektare lahan tanaman Lai. Pengembangan Lai di desa ini juga sudah turun temurun.Kini Lai juga mulai dikembangkan di Kecamatan Muara Badak dan sekitarnya dan tanaman ini tidak memerlukan perlakuan khusus, karena merupakan jenis tanaman pohon hutan yang biasa tumbuh bebas dengan iklim tropis basah (panas yang disela hujan), sehingga tidak sulit untuk dikembangkan di Kukar atau Kaltim pada umumnya. Mengingat aromanya yang tidak tajam dan daging buahnya tidak mengandung gas tinggi, komoditas lokal ini (Lai, red) memiliki peluang cukup besar untuk pasaran baik dalam terlebih luar negeri, dimana sebagian besar masyarakat luar negeri kurang menyukai buah durian yang berbau tajam dan daging buahnya yang mengandung gas tinggi. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kukar, Hardi Dwi Putera didampingi Kasi Pemasaran, Sya'rani mengatakan, selain pelestarian komoditas lokal, peluang pasar yang menjanjikan juga menjadi alasan utama pengembangan tanaman Lai. "Kita memang memiliki program pengembangan komoditas lokal unggulan, salahsatunya buah Lai.Buah khas Kutai ini perlu terus kita lestarikan dan kembangkan. Peluang pasarnya juga menjanjikan," kata Hardi. Dijelaskan, untuk pasar, sejauh ini buah Lai sudah merambah beberapa wilayah di Indonesia, bahkan pernah dipasarkan ke luar negeri, yakni Singapur. "Untuk Singapur, kita sudah dua kali menerima pesanan beberapa kontainer buah Lai. Kita juga sedang mencari peluang pasar di negara lainya," ungkap Hardi yang diamini Sya'rani. Untuk peluang pasar internasional, Dinas Pertanian Tanaman Pangan akan berkerjasama dengan instansi terkait, yakni Badan Penanaman Modal dan Promosi Daerah (BPMPD) termasuk instansi terkait lainya, seperti Dinas Perdaganan. Kabarnya, buah Lai berpeluang diterima di market internasional, karena mulai dari warna, rasa yang enak dan khas serta aromanya yang tidak menusuk hidung disukai banyak warga asing. Dijelaskan pula, tanaman Lai ini juga menarik minat Sultan Hamangkubuwono untuk dapat dikembangkan di Jokjakarta. Sultan Kamengkubuwono, kata Hardi pernah memakan buah Lai Merah dan Sultan merasa penasaran dan ingin lagi merasakan buah khas Kutai tersebut. Setelah dikirimi buah Lai, ternyata Sultan Jokja itu berniat megembangkanya di daerahnya, Jokjakarta. "Karena keinginan itu, kami pun mengirimi bibit pohon Lai unggulan. Pasalnya menurut Sultan Hamangkubuwono, biji Lai yang dia tanam tidak mau tumbuh, jadi kami kirimkan bibitnya dan mudah-mudahan bisa tumbuh dan berkembang di Jokja," ujar Hardi. Yang jelas, lanjut Hardi, untuk komoditas unggulan kita ini (buah Lai) akan terus kita kembangkan dan lestarikan sebagai komodias khas daerah. Selain lebih mengenalkan pertanian Kukar melalui komoditas lokal, pelestarian dan pengembangan buah Lai juga diharapkan mampu mengangkat pereknomian masyarakat petani Lai di Kukar. "Pada pertemuan dengan bupati beberapa waktu lalu, saya juga pernah berbicara mengenai komoditas lokal unggulan kita ini. Ini juga bentuk dari upaya kita mendukung program Gerbang Raja melalui sektor pertanian, yang muaranya tidak lain adalah kesejahteraan masyarakat," ujar Hardi. (adv)
|