Warga Menilai Ada Pembiaran Terkait Penyakit Gatal yang Menyerang Warga Sambaliung
2010-10-23 05:18:19
TANJUNG REDEB – Warga Sambaliung menyayangkan atas lambannya penanganan warga yang terserang penyakit gatal – gatal, yang diindikasikan dampak dari air Sungai Kelay tercemari limbah industri. Bahkan warga menilai Badan Lingkuangan Hidup (BLH) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) terkesan melakukan pembiaran terhadap masalah ini. Seperti yang pernah diterbitikan koran ini sebelumnya, warga yang menderita penyakit gatal – gatal ini mayoritas mandi di Sungay Kelay, yang notabennya belum mendapat jatah sarana air bersih dari PDAM Sambaliung. Sungai Kelay yang disinyalir terkena limbah industri ini menjadi alternatif terakhir untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari. Akibatnya , sejak sebulan lebih yang lalu sedikitnya 30 KK terserang penyakit gatal – gatal, dari mulai anak – anak hingga orang dewasa. Bahkan kabar terakhir yang diperoleh Poskota Kaltim, korban terus bertambah, tak terkecuali empat santri pondok pesantren Al-Kholil Sambaliung. Dari empat santri tersebut satu orang diantaranya terpaksa harus berobat ke Surabaya, lantaran tak kunjung sembuh, bahkan semakin parah meski sudah berobat beberapa kali ke rumah sakit Abdul Rivai Tanjung Redeb. Salah satu tokoh pemuda Sambaliung, Turmin Ardi menyayangkan atas lambannya penanganan masalah ini. Pasalnya, kasus ini muncul sudah satu bulan lebih, tapi hingga kini BLH dan Dinkes belum juga turun ke lapangan. “Padahal mereka pernah berjanji secepatnya akan turun ke lapangan. Tapi nyatanya sampai sekarang mereka – mereka yang berkompeten dalam masalah ini tak juga nongol,” ungkapnya. Padahal, lanjut Mantan Ketua KNPI Berau, persoalan ini adalah tugas mereka (BLB dan Dinkes. Red), bukan dinas instansi lainnya. Mestinya, begitu mendengar keluhan warga warga, lagsung turun ke lapangan melakukan pengobatan atau mendengarkan keluhan warga, sekaligus mengambil sample air Sungai Kelay untuk dilakukan pengkajian, dalam hal ini diuji di laboratorium, agar dapat diketahui Sungay Kelay ini tercemar limbah atau bukan. “Jangan sampai saling tunggu – menunggu antara dua instansi terkait, kalau saling tunggu, terus kapan turun ke lapangan. Apakah mereka harus bersamaan turun ke lapangan, nggak juga kan? Kan bisa saling menyusul,” tegasnya. Karenanya menurut mantan ketua Partai Bulan Bintang (PBB) ini tidak berlebihan jika masyarakat menilai ada unsur pembiaran terhadap masalah ini. Sehingga penyakit yang gampang menular ini makin menyebar di wilayah Sambaliung, khususnya mulai dari RT 01 hingga RT 14. pungkasnya. roz.
|