Komoditi Unggulan Kaltim Meningkat2010-10-24cc23:44:43
SAMARINDA-Kepala Dinas Perkebunan Kaltim HM NUrdin menjelaskan bahwa perkembangan luasan areal perkebunan di Kaltim sejak 2005 hingga 2009 mengalami peningkatan cukup berarti. Peningkatan terjadi pada komoditi unggulan, yakni karet, kelapa sawit dan lada. “Peningkatan ini terjadi karena tren harga pasar untuk komoditi-komiditi tersebut memang terus membaik dan masih sangat potensial,” kata Nurdin, Jumat (21/10). menurutnya, luasan tanaman karet pada 2009 mencapai 75.924,5 hektar, meningkat dari tahun 2005 yang hanya 62.4526 hektar (naik 21,62 persen). Luas tanaman lada juga mengalami peningkatan. Jika pada 2005 tercatat 13.821 hektar meningkat menjadi 15.254,5 hektar pada 2009 atau mengalami peningkatan sebesar 7,81 persen. "Peningkatan tertinggi terjadi pada komoditi unggulan kelapa sawit. Pada 2005 luas lahan perkebunan kelapa sawit adalah 201.087 hektar dan pada 2009 meningkat menjadi 530.554 hektar atau terjadi peningkatan seluas 329.467 hektar atau 163,84 persen," ujarnya. Pertumbuhan positif sektor perkebunan, khususnya karet dan kelapa sawit menurut HM Nurdin selain karena faktor tingginya tren harga pasar internasional juga disebabkan berbagai kebijakan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota mendukung pengembangan program prioritas pertanian dalam arti luas. Meski demikian, Nurdin mengakui, untuk peningkatan luas areal dan produksi karet dan kelapa sawit, pihaknya masih akan terus melakukan perbaikan terutama untuk mendorong partisipasi pihak swasta melakukan pengembangan perkebunan yang melibatkan perkebunan rakyat. Nurdin menambahkan, efek positif dari peningkatan luas areal lahan pertanian tersebut juga memberi dampak langsung pada peningkatan produksi komiditas unggulan Kaltim tersebut. Peningkatan tersebut juga berimbas pada peningkatan kontribusi sektor perkebunan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan memiliki serapan cukup tinggi terhadap tenaga kerja di Kaltim. Secara langsung hal tersebut akan membantu mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. “Kami akan memberi perhatian serius untuk mendorong investor melakukan kerjasama yang baik untuk perkebunan rakyat ini. Karena peningkatan sektor ini jelas akan sangat membantu peningkatan ekonomi masyarakat dan sekaligus menekan angka pengangguran,”jelasnya. Namun demikian, Nurdin mengakui untuk sejumlah komoditi justru terjadi penurunan luasan areal lahan, diantaranya kelapa dalam dan kakao. Kelapa dalam mengalami penurunan sebesar 27,02 persen dari 45.643 hektar pada 2005 menjadi 33.308 hektar pada 2009, sedangkan untuk kakao mengalami penurunan luas areal 3.875 hektar atau 10,39 persen, yakni 37.296 hektar pada 2005 menjadi 33.421 hektar pada 2009.mar/adv
|