Petani Karet Marang Kayu Berpenghasilan Rp3 Juta/Bulan2010-10-25 05:20:44
SAMARINDA-Tidak banyak para petani yang mau menggunakan lahannya untuk menanam karet di lahan mereka. Padahal jika kebun karet ini diseriusi mampu menghasilkan sedikitnya Rp 3 juta/bulan. Ini dikarenakan, selain masa tanam yang cukup lama, dan juga perlu perawatan yang intensif. Contohnya, Syaparuddin, petani karet asal Marang Kayu Baru. Dia memanfaatkan lahannya seluas 1 hektar untuk menanam pohon karet. Padahal bagi masyarakat disekitarnya, menanam karet adalah usaha yang sia-sia, dan diperlukan modal yang cukup besar. Meski dengan modal yang sangat minim, Syaparudin tetap bertahan memanfaatkan lahannya untuk kebun karet. Diatas lahan 1 hektar Syaparuddin menanam 400 ratus bibit pohon karet dan saat ini sudah mulai panen. "Pohon ini ditanam sejak tahun 2003 dan sudah dua tahun panen," kata Syaparuddin. Sebelumnya, untuk mempertahankan hidup keluargannya, Syaparudin memanfaatkan sebagiaan lahan miliknya untuk menanam semangka. Kini, berkat ketekunannya, Syaparuddin berhasil menjadi petani karet berhasil. Dari lahan awal yang hanya 1 hektar, Syaparuddin memiliki lahan kebun sawit seluas 3 hektar. "Awalnya saya dibantu bibit oleh PT Vico Indonesia, saat ini saya yang memberi bantuaan bibit kepada masyarakat sekitar untuk memulai menanam pohon karet di kebun mereka," kata Syaparuddin. Awalnya, kata dia, sangat sukar membawa masyarakat sekitar untuk mulai menanam pohon karet, namun setelah melihat hasil dari kebun karet miliknya, masyarakat akhirnya mau ikut menamam pohon karet. Saat in, lanjutnya telah ada sekitar 30 hektar lahan baru siap tanam di daerah ini milik masyarakat sekitar. "Dalam waktu dekat kita akan buka kembali kebun karet di kawasan ini," kata Syaparuddin. Disinggung mengenai hasil panen yang dihasilkan, Syaparuddin mampu menghasilkan 10 kg karet mentah dari 400 pohon yang ada. Harga Jual Karet mentah itu, lanjut Syaparuddin, sekitar Rp10 ribu- Rp11 ribu/kilonya. Namun karena belum ada koperasi didaerah ini, maka Syaparuddin menjualnya kepada Tengkulak. "Harga jualnya memang belum sesuai dengan harga jual karet diluaran, namun dengan harga yang masih sesuai dengan kemauaan tengkulak, ia sudah dapat hidup berkecukupan," kata Syaparuddin. Disinggung kendala yang dihadapi selama menanam karet Syaparuddin mengaku bahwa kelemahannya selama ini adalah ia tidak mengetahui cara tanam yang baik untuk petani karet. "Karena tidak mengetahui cara menanam yang baik sehingga ia jarang memberi pupuk pada tanamannya, padahal jika mau meningkat produksi mestinya ia memberi pupuk kepada pohon karet miliknya," katanya. Sementara itu Eksternal Reletion Vico Indonesia Suprianto mengatakan saat ini Vico Indonesia sedang melakukan pembinaan terhadap masyarakat Marang kayu baru, khususnya yang berada di wilayah Eksplorasi Vico Indonesia. Bantuan dan pembinaan lanjut Suprianto, merupakan program untuk pengembangan masyarakat dalam rangka mendorong masyarakat untuk mengembangkan diri. Bantuan, lanjutnya, merupakan bantuan pengembangan yang diberikan berupa sarana penunjang pertanian lainnya. Hasil yang dicapai dan dirasakan lanjut Suprianto adalah adanya peningkatan pendapatan dibanding sebelumnya. "Yang pasti dengan adanya pendampingan dari Vico Indonesia, Rata rata hasil yang diraih oleh petani sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup," kata Suprianto. M4n
|