Makna Sumpah Pemuda Dimata Fatimah Asyari2010-10-28 04:59:45
SAMARINDA-Sumpah Pemuda pada era 2010 ini harus tetap dimaknai dengan kebulatan tekad untuk bersama mempertahankan NKRI (Bertanah air, berbangsa dan berbahasa Indonesia). Kebulatan tekad tersebut harus ditindaklanjuti dengan mempersiapkan dan menempa diri sebaik mungkin agar siap pada suatu saat menerima estafet kepemimpinan bangsa dan negara ini dalam mengisi berbagai pembangunan. Demikian salah satu makna Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dimata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kota Samarinda, Hj Fatimah Asyari, Rabu (27/10). “Langkah tersebut secara personal berupa penigkatan mutu SDM, rasa nasionalisme, idealisme, dedikasi dan loyalitas untuk mencapai presatsi dalam rangka pengabdian dan perjuangan bagi kepentingan masyarakat Indonesia,” kata politis wanita Partai Golongan Karya ini. Fatimah menuturkan, sebagai anak bangsa yang dengan seiring waktu terus berkembang menjadi dewasa, maka dimasa depan akan mampu menjadi seorang pemimpin yang amanah. “Perilaku yang amanah ini harus dipupuk dan ditanamkan sejak dini. Karena hal itu merupakan bagian terpenting saat dirinya menerima estafet menjadi seorang pemimpin,” katanya. Menurut Fatimah, Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. “Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu,” katanya. Kondisi ketertindasan inilah, kata Fatimah, yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli. “Tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945,” tegasnya. Kembali cerita soal rumusan Sumpah Pemuda, Fatimah, mengatakan bahwa rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. adv
|