Aktifitas Warga Jantur Masih LumpuhSungai Tetutup Gulma Setebal 6 Meter
2010-10-30 05:18:10
TENGGARONG- Bencana gulma yang menyerang tiga desa di Kecamatan Muara Muntai melumpuhkan hampir seluruh aktifitas masyarakat, terutama yang bermukin di Desa Jantur induk, Jantur Selatan dan Jantur Baru. Bencana gulma yang sudah Masuk hari ke 12 bermula saat angin kencang yang mengiring gulma masuk ke sekitar Danau Jempang dan memasuki wilayah Desa Jantur. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (17/10) lalu itu telah merusak dan menghanyutkan lebih dari 110 keramba, 15 rumah rakit, 9 jamban, 6 perahu, 1 dermaga desa hancur dan 3 keramba rakit. Akibat bencana gulma yang menutup Sungai Jantur itu, jalur transportasi menuju tiga desa yakni Desa Jantur Induk, Jantur Baru dan Jantur Selatan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menggangu kegiatan perekonomian masyarakat setempat. Pemkab Kukar melalui dinas dan instansi terkait sudah membentuk tim dan melakukan peninjauan ke lapangan. Tujuanya untuk mengetahui penyebab dan mencari solusi mengatasi bencana gulma tersebut. Kemarin (Jumat 29/10) dilakukan rapat evaluasi hasil peninjauan lokasi bencana gulma di Kantor Badan Kesbangpol dan Linmas. Rapat dipimpin Kepala Kesbangpol dan Linmas, H Darmansyah dihadiri anggota tim yang terbentuk untuk menangulangi bencana gulma dari Dinas Perhubungan, Dinas PU dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Dari rapat tersebut diketahui penyebab terjadinya bencana gulma karena sejenis rumput liar yang tersebar di Danau Jempang itu bergerak dibawa arus air dan tiupan angin sehingga menutup alur Sungai Jantur. Gulma padat itu memiliki ketebalan 4 hingga 6 meter, dengan panjang sekira 1.500 meter dan lebar sekira 110 meter. Dala rapat itu disamaikan pula beberapa solusi dalam menanggulangi bencana gulma, seperti perlu adanya penambahan pembuatan vender pemecah gulma di muara Sungai Jantur melalui usulan Anggaran APBD II Tahun 2011 dan APBD I Propinsi Kalimantan Timur ataupun APBN yang melalui Balai Wilayah Sungai Kalimantan III. Pembersihan gulma dapat dibantu melalui bantuan Pemkab pada anggaran tahun 2010 mengingat dana yang bersumber dari Alokasi Dana Desa sebesar Rp 30.000.000,- per desa tidak mencukupi. Selain itu, untuk membantu meringankan beban masyarakat yang mayoritas nelayan itu, perlu adanya bantuan bibit ikan dan bantuan pembuatan keramba serta alat tangkap yang dianggarkan melalui usulan tahun 2011. Juga perlu adanya pengadaan ponton pemotong dan pembersih gulma. Namun yang penting dilakukan saat ini menurut Darmansyah adalah membantu masyarakat memecah atau menghancurkan gula yang menutup sungai yang merupakan satu-satunya akses transportasi desa, agar aktifitas perekonomian masyarakat kembali berjalan normal.
TUMBUHAN LIAR Untuk diketahui, gulma atau yang biasa disebut warga setempat sebagai napung, merupakan sejenis tumbuhan rumput liar yang berkembang dengan cepat pada danau saat danau tersebut kering. Gulma yang telah padat dengan ketebalan hingga 6 meter itu akan mengapung ketika musim hujan dan danau dipenuhi air. Arus air danau yang bergerak keluar akan membawa napung dan akhirnya sampai di sungai. Jika arus sungai deras, napung yang terbawa akan membahayakan bagi warga desa yang dilewatinya, dimana napung yang hanyut itu bisa menghantam dan merusak bangunan rumah warga, terutama rumah rakit atau lanting, keramba ikan, termasuk sarana umum seperti dermaga desa dan jembatan. Karena padat dan lebar, saat terbawa arus sungai napung bisa tersangkut dan akan terkunci, sehingga bisa menutup lalu lintas sungai, dan itulah yang saat ini sedang terjadi di Sungai Jantur. Sebenarnya, bencana gulma ini bukan yang pertama kali terjadi di Desa Jantur yang berada di sekitar Danau Jempang tempat berkembang biaknya gulma. Tahun-tahun sebelumnya hal serupa juga terjadi dan rutin tiap tahun. seperti kejadian saat ini, bencana napung tahun sebelumnya juga mengakibatkan kerugian cukup besar bagi warga, dimana sejumlah bangunan warga dan fasilitas umum juga rusak akibat terjangan gulma. Demikian juga dengan sungai juga sempat tertutup dalam waktu cukup lama sehingga menghentikan aktivitas perekonomian warga. Perlu juga diketahui, tumpukan gulma yang membusuk bisa mengurangi DO air atau kadar udara terlarut dalam air. Air yang sudah minim kadar DO tersebut berdampak buruk pada ikan karena menyebabkan kematian pada ikan. Keadaan tersebut dikenal dengan "bangar" . Air bangar yang terus hanyut menuju hilir sungai menjadi musibah bagi para pembudidaya ikan keramba. Pasalnya, tiap keramba ikan yang dilewati (terkena bangar), ikannya akan kekurangan ogsigen dan mati secara massal. yd
|