DP3K PPU Selektif Masuknya Hewan Kurban2010-11-01 06:04:27
PENAJAM, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melalui Dinbas Peternakan Pertanian Perikanan dan Kelautan akan lebih selektif untuk menerima masuknya hewan-hewan kurban seperti sapi, kambing, ayam, telur ayam dan lainnya yang nantinya akan dipasarkan ketika Hari Raya Kurban yang jatuh Rabu (17/11) mendatang. Dinas Peternakan Pertanian Perikanan dan Kelautan (DP3K) PPU akan langsung melakukan pengecekan kesehatan hewan kuran dan telur yang masuk Kabupaten PPU sebelum dikonsumsi masyartakat khususnya daging sapi di tempat pemotongan hewan dan pasar tradisional, pemeriksaan kesehatan hewan kurban meliputi pemeriksaan fisik dan kimiawi untuk memastikan daging yang akan dikonsumsi aman dari penyakit. Demikian dikatakan Seksi Kesehatan DP3K, Arief Murdiatno, saat ditemui diruang kerjanya kemarin, dia mengatakan daging sapi lokal aman, tapi ia tidak menjamin sapi yang di datangkan dari luar PPU olehnya perlu dilakukan pemeriksaan demi menjamin kesehatan hewan kurban yang akan dipasarkan nanti. Kalau daging sapi lokal saya pastikan aman dikonsumsi karena pemeriksaan rutin kami lakukan, tapi untuk sapi luar pihaknya tidak berani menjamin, apalagi saat ini jumlah hewan ternak sapi di PPU berjumlah 6.000 ekor dan dinilai masih mencukupi untuk pemenuhan saat Hari Raya Kurban, tapi DP3K tidak bisa melarang warga mendatangkan ternak dari luar karena tidak semua hewan ternak lokal bisa dikurbankan. Menurut dia, untuk memastikan hewan ternak dari luar PPU bebas penyakit pihaknya melakukan kerja sama dengan pihak karantina hewan di PPU dan karantina Balikpapan sebagai distributor, sedangkan hewan ternak yang tidak melalui karantina akan diperiksa melalui chek point yang ada disejumlah titik masuk PPU khususnya masuk Penajam. ‘’Untuk memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat aman, khususnya menjelang hari raya qurban maka DP3K akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan PPU dan bersama-sama akan melakukan pemeriksaan fisik dan kimiawi terhadap daging hewan qurban baik di rumah pemotongan hewan (RPH), pasar-pasar tradisional serta yang dipotong di rumah maupun masjid,’’ ujarnya. Ditanya cara pemeriksaan kesehatan hewan qurban, Arief mengatakan dengan cara mengambil sampel daging secara acak sedangkan untuk cek fisik dilihat dari penampilan daging seperti warna, apakah berlendir, dan bau, sementara pengecekan kimiawi untuk mengetahui cemaran mikro organisme dan residu anti biotik, terangnya. Terkait hadirnya RPH di Desa Girimukti yang belum difungsikan secara maksimal karena masyarakat cenderung melakukan pemotongan hewan di rumah ibadah, sekolah, dan di kampung-kampung, dia mengakui hal itu namun berupaya untuk meyakinakn agar hewan yang akan dipotong itu benar-benar bebas penyakit khususnya yang lagi ramai dsaat ini adalah flu burung dan antraks pada sapi. max
|