Pembangunan "Harus" Miliki Ketahanan, Harga Diri dan Fredom from Servitude

 2010-11-01 07:07:03

BUPATI Kutai Kartanegara, Rita Widyasari mengatakan pembangunan memiliki tiga cakupan makna, yaitu "harus" memiliki ketahanan (Sustenance),  harga diri (Self Esteem) dan  Fredom from servitude.
Dijelaskan, ketahanan (Sustenance) adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok (pangan, papan, kesehatan, dan proteksi) untuk mempertahankan hidup. Sedangkan harga diri (Self Esteem) maksudnya adalah pembangunan haruslah memanusiakan orang, seperti rasa kebanggaan akan nilai tambah daerah dan  Fredom from Servitude  adalah kebebasan bagi setiap individu untuk berpikir, berkembang, berprilaku dan berusaha untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
Sedangkan paradigma pelaku pembangunan menurut Rita, meliputi governance sebagai model pelaku pembangunan. Konsep governance mengandung makna kepemerintahan, antara lain mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi dan sosial yang melibatkan pengaruh sektor negara dan sektor non pemerintah dalam suatu kegiatan kolektif (Ganie Rochman, 2000:142), Praktek penyelenggaraan kekuasaan dan kewenangan oleh pemerintah dalam pengelolaan urusan pemerintahan secara umum dan pembangunan ekonomi padakhususnya (Pinto dalam Nisjar, 1997:119) dan sebagai pelaksanaan kewenangan politik, ekonomi, dan administrasi untuk memenage urusan-urusan bangsa.
Lebih lanjut disebutkan, kepemerintahan adalah suatu institusi, mekanisme, proses, dan hubungan yang komplek melalui warga negara (citizens) dan kelompok-kelompok yang mengartikulasikan kepentingannya, melaksanakan hak dan kewajibannya dan menengahi atau memfasilitasi perbedaan-perbedaan diantara mereka.
Dikatakan pula, pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lain, negara satu dengan negara lain .
Secara tradisional, kata Rita, pembangunan memiliki arti peningkatan yang terus menerus pada Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto (PDB) suatu  negara. Untuk daerah, makna pembangunan yang tradisional difokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi, kabupaten, ataupun kota. 
Pembangunan ekonomi,  menimbulkan alternatif yang lebih menekankan pada peningkatan income percapita, sekaligus mampu meningkatkan output yang dapat melebihi tingkat pertumbuhan penduduk  sedangkan pembangunan tradisional sering dikaitkan dengan sebuah strategi mengubah struktur suatu negara atau sering dikenal dengan industrialisasi (Hettne, 2001:51).
Menurut Rita, adanya modernisasi merupakan akibat dari industrialisasi yang membawa terjadinya semua perubahan sosial politik yang mengikuti industrialisasi di banyak negara yang berlatar belakang kebudayaan Barat, seperti urbanisasi, perubahan struktur sosial, polusi dan sebagainya. Karena itu, modernisasi biasanya diasosiasikan dengan perubahan yang dibawa dari luar. Sedangkan alternatif lainnya adalah pembangunan modern memandang suatu pola yang berbeda dengan pembangunan ekonomi tradisional, seperti PDRB/PAD. yd

Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

KAMIS
KAMIS
New User Login




Video News
To watch this video, you need the latest Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...

 
 
 
 
 
 
 
 
Iklan...
Raih sukses didepan mata
Media promosi online poskota kaltim.com sarana terpercaya untuk mempromosikan usaha anda dalam sekejap akan dilihat oleh dunia

Ucapan Terima Kasih
Segenap Pimpinan dan Seluruh Staff Atas kepercayaan Anda Membuka WebSite Kami

Hotline
Editorial
Solusi
Surat Pembaca
Polling
Berita apa saja yang menurut anda sangat diminati pembaca poskotakaltim
Daerah
pariwisata
hukum
Pendidikan
perekonomian
semua berita
 
total pemilih : 1235 | Lihat Hasil
Pasang iklan anda disini...