Gelombang Surutkan Langkah Nelayan Melaut2010-11-04 05:32:56
TANJUNG REDEB- Kondisi cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kawasan di Indonesia tak luput menimpa Kabupaten Berau. Hanya saja untuk Berau kondisi itu hanya menimpa kawasan perairan Berau yang menyurutkan langkah nelayan untuk melaut mencari nafkah. Ditemui di kantornya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Berau, Sujadi A.Pi, Kabid Sumber daya Perikanan dan Kelautan membenarkan jika dampak gelombang yang terjadi berpengaruh pada stok hasil laut. “Cuaca ekstrem di perairan kita memang ada sedikit peningkatan gelombang, ini terpantau dari update data BMKG yang ada, dimana pada perairan utara Kalimantan ada potensi gelombang yang lumayan besar, setidaknya bagi nelayan tradisional gelombang itu sangat besar,” jelasnya. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klematologi dan Geofisika (BMKG), prakiraan harian gelombang tertinggi seminggu sejak tanggal 2 hingga 8 November, bagian utara Kalimantan gelombang dapat mencapai antara 3 hingga 6 meter. Gelombang tersebut memang tidak pasti namun berdasarkan prakiraan, kecepatan angin yang akan melintas berpotensi menciptakan gelombang setinggi itu. Untuk perairan Berau sendiri, menurut Sujadi, memang tidak akan sebesar itu, namun gelombang yang ada setidaknya patut diwaspadai, utamanya bagi nelayan dengan fasilitas kapal kecil atau tradisional. Kekhawatiran lain, dampaknya dapat mengurangi jenis dan jumlah ikan yang masuk pasaran. Hal itu memicu berlakunya hukum pasar yang mengakibatkan harga ikan ikut-ikutan menjadi ekstrem. “Kita meminta kepada nelayan memanfaatkan media informasi televisi untuk memantau gelombang dan prakiraan cuaca di laut. Sebab, kita tidak bisa lagi mengandalkan perhitungan musim, angin dan gelombang seperti dulu, perubahan iklim tidak dapat diprediksi seperti 20 tahun silam akibat rusaknya tatanan atmosfir bumi akibat global warming,” jelasnya lagi. Ditambahkan, nelayan dapat mengurangi pasokan ikan dan hasil laut lain ke luar, sebagai antisipasi jika cuaca tak kunjung reda. as
|