Gubernur Buka Badminton Tuna Rungu Asia2010-11-05 04:32:20
SAMARINDA-Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak dipastikan membuka 3rd Asia Pacific Deaf Badminton Champhionship (Kejuaraan Bulutangkis Tuna Rungu se-Asia Pasifik) di Stadion Utama Palaran Samarinda, yang di helat sejak 5-12 November 2010 mendatang. Demikian disampaikan Sekretaris Umum Panitia Pelaksana Daerah 3rd Asia Pacific Deaf Badminton Champhionship H Bere Ali kemarin. Menurutnya, pelaksanaan itu digelar atas kerjasama Persatuan Olahraga Tuna Rungu Indonesia (Porturin) Kaltim dengan Pemerintah Provinsi Kaltim. “Seluruh kegiatan untuk menunjang kesuksesan penyelenggaraan telah dilaksanakan, bahkan sponsorship sudah memberikan dukungan dananya,” ujar Bere Ali di ruang kerjanya. Dikatakannya, pada awalnya dana yang diperlukan sekitar Rp 4,6 miliar, namun panitia mengefesiensikan dengan perhitungan kegiatan yang relevan. Serta dilakukan pembiayaan secara gotong royong, sehingga diperkirakan memerlukan pembiayaan sekitar Rp 2 miliar. Menurutnya, secara keseluruhan peserta 3rd APDBC ini berjumlah 30 negara dengan peserta sekitar 400 orang. Hanya saja, karena masing-masing negara memiliki kebijakan yang berbeda terhadap pemberian perhatian kepada para penyandang cacat tersebut. Akibatnya, hal ini berimbas pada kehadiran negara-negara tersebut untuk ikut andil pada kejuaraan ini. Di mana, untuk kejuaran yang dilaksanakan di Kaltim pada tahun ini diperkirakan hanya diikuti sekitar enam negara saja. “Seperti Negara Jepang dengan sekitar 10 orang delegasi, China Taipei dengan 17 orang delegasi, Korea Selatan mengirim 7 orang delegasi, India mengikutkan 12 orang delegasi dan Indonesia selaku tuan rumah mengikutkan 9 orang delegasi. Sedangkan Negara Kazakhastan masih menunggu konfirmasi selanjutnya, mudah-mudahan mereka dapat mengikutinya,” timpalnya. Dikatakannya, awalnya diperkirakan akan diikuti seluruh persatuan olahraga tuna rungu asia Pasific sebanyak 30 negara, namun hingga close (ditutup) pendaftaran pada (1/11) lalu, baru enam negara yang siap berpartisipasi pada kejuaraan tersebut, itupun termasuk Indonesia. “Jika demikian, apabila kejuaran ini hanya diikuti sekitar enam negara, termasuk Indonesia. Tentu anggaran dana penyelenggaraan turnamen tersebut tidak sebesar yang dianggarkan panitia pada waktu lalu. Untuk ini paling tidak dana penyelenggaraan yang diperlukan hanya sekitar Rp 600 juta saja, begitu pula waktu pelaksanaan tidak sampai sepekan,” pungkasnya. mar
|