Anggota DPRD pun Ikut Geram2010-11-09 05:18:50
TANJUNG REDEB– Meski sudah dilakukan penertiban oleh tim terpadu, tetapi tak membuat penimbun dan pengecer BBM, khususnya jenis premium jera. Setelah ditertibkan, berselang beberapa hari pengecer BBM kembali muncul, dengan cara sembunyi maupun terang–terangan. Ternyata bukan hanya Bupati Berau Drs H Makumur HAPK MM dan Wakil Bupati (Wabup) Ir H Achmad Rifai MM saja yang merasa geram dan bingung melihat prilaku warga yang melakukan penimbunan dan mengecer BBM jenis premium, Wakil DPRD Berau H Saga pun mengaku demikian, karena menurut dia hal itu membuat antreaan panjang tak pernah surut. ”Menurut saya ini prilaku warga ya, jadi agak sulit dihilangkan. Terkecuali, ada tindakan tegas dari tim terpadu atau penegak hukum,” tegasnya. Menurutnya sudah cukup apa yang sudah dilakukan, oleh Pemkab Berau, termasuk membentuk aliansi mahasiswa, yang tugas melakukan pengawasan di lapangan. Untuk itu, lanjutnya, adanya laporan seperti ini tim terpadu harus menindaklanjuti, termasuk mengawasi kendaraan yang berulang – ulang antre di SPBU. ”Jadi jangan pengecer saja yang ditertibkan, tetapi penyedot ini lho yang perlu diteribkan juga,” cetusnya. Selain itu tim terpadu juga melakukan pengawasan di sejumlah SPBU, yakni melakkan pengawasan kemana saja BBM itu dipasarkan. ”Sebab, kalau hanya melakukan penertiban di level bawah, kasian juga masyarakat kecil,” imbuhnya. Ia mengaku menyambut baik rencana Pemkab Berau memanggil pihak PT Pertamina, untuk melakukan dialog sekaligus mengajak turun ke lapangan. Agar pihak Pertamina melihat langsung, seperti apa yang terjadi di sejumlah SPBU, ketika terjadi antrean panjang. Kata politisi PPP ini, sulit membuktikan kalau pegawai SPBU turut bermain dengan penyedot, yang mana setiap kendaraan roda harus memberi tips Rp 5 ribu, sementara kendaraan roda empat Rp 10 ribu. Ia mengaku jika informasi itu pernah ia dapat langsung dari masyarakat, dan itu pernah juga dipertanyakan kepada pilik SPBU. ”Saran saya, kalau ada yang terlibat pecat saja karyawannya. Tapi tudingan itu tidak dibenarkan oleh pemiilik SPBU. Jadi sulitkan membuktikannya, terkecuali tahu langsung depan mata,” ujarnya. Yang jadi bahan pertanyaan dia sekarang, dari lima SPBU yang ada, tidak pernah semuanya beroperasi bersamaan. Kalu pun beroperasi, paling – paling hanya tiga SPBU. Sementara yang lain tutup, dengan dalih bensin habis. roz
|