Pembudayaan Gemar Membaca Sejak Usia Dini2010-11-10 07:59:53
TENGGARONG-Membaca adalah kunci pembelajaran. Kemampuan membaca amatlah penting untuk menyerap pelajaran apapun yang selalu tiap hari diajarkan disekolah-sekolah, dimasyarakat modern ketrampilan membaca adalah suatu keharusan untuk memenangkan persaingan didunia kerja. Kepala Sub Bidang Organisasi dan Minat Baca Badan Kearsiapan dan Perpustakaan Daerah Kukar Bambang Sugianto SSos menyatakan, bahwa di era reformasi seperti sekarang ini bisa dipastikan permintaan akan kemampuan membaca akan jauh lebih tinggi, ia menyarankan khususnya kepada para orang tua sekarang, untuk memastikan anak-anak dapat membaca, menulis, mengeja dan menyebutkan kata-kata secara benar. “Karena keluarga adalah titik awal budaya baca. Kita sebagai orang tua hendaknya menjadi teladan membaca dikeluarga anda seperti apa yang telah dikampanyekan seorang duta baca Indonesia yaitu Tantowi Yahya dengan kata mutaianya adalah ibuku perpustakaan pertamaku, maka kita sebagai orang tua memanfaatkan usia emas anak dari 0-4 Tahun untuk menanamkan kecintaan pada buku dan kegemaran membaca. Coba perhatikan suhu membaca keluarga anda dengan indikator jumlah bacaan yang tersedia dirumah. Apabila suhu rendh artinya buku hanya sedikit atau sebaliknya.” ungkapnya. Permasalahan yang mengemuka, lanjut Bambang Sugianto, bagaimana bila keluarga tidak mampu menanamkan kegemaran membaca diusia emas anak-anaknya, dapatkah pengajar disekolah dasar menumbuhkan kegemaran membaca siswanya. “Permasalahan diatas dan jawabannya adalah kembali kepada diri kita masing-masing. Penulis kemudkan pengaruh rendahnya ketrampilan membawa pada anak-anak, yakni nilai pelajaran yang buruk, mudah prustasi, sulit menuntaskan tugas, rendah diri, bermasalah dalam perilaku, sering sakit biasanya karena stres, tidak suka bersekolah, menjadi pemalu dikelompoknya, gagal mengembangkan potensi dirinya.” tuturnya. Namun kenyataan yang sekarang dihadapi sekolah sulit mengupayakan terciptanya “lifetime readers” siswa yang terus belajar dengan membaca sepanjang hayat, malah banyak sekolah hanya menciptakan schooltime readers” siswa yang membaca hanya ketika sekolah saja. “Ada 3 hal sekolah yang ramah membaca, yaitu pertama perpustakaan sekolah harus menjadi solusi alternatif bila keluarga tidak mampu menumbuhkan minat baca anak,kemudian sekolah perlu memberikan waktu dan perhatian khusus pada pengembangan minat baca anak diluar waktu belajar, serta pengajar wajib memiliki minat baca tinggi agar mampu menularkan “virus membaca” kepada siswanya.” katanya. Oleh karena itu tambah Bambang Sugianto untuk menumbuhkan minat baca usia dini penulis kemukan usulan, agar semua sekolah tingkat dasar dapat memprogramkan dan menciptakan “lifetime readerd” melalui perpustakaan sekolah. Siswa dilibatkan langsung dalam tugas-tugas sederhana pustakawan yakni shelfing dan sirkulasi, dengan magang didalam perpustakaan sekolahnya, secara alamiah akan terbentuk keakrapan siswa dengan buku dan selanjutnya menumbuhkan minat baca.awi
|