Sarung Khas Samarinda Jadi Unggulan2010-11-12 22:41:48
SAMARINDA-Keberadaan Sarung Samarinda agaknya tak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Tepian. Sarung yang memiliki motif khas ini awalnya dibuat oleh istri salah seorang saudagar asal Sulawesi yang bermukim di Samarinda Seberang. Tepatnya di Jl P Bendahara Kelurahan Masjid Kecamatan Samarinda Seberang. Pua Choa adalah penenun pertama sarung itu. Dia adalah istri Pua Toa, yang dulu berdagang hingga luar negeri. Sarung Samarinda punya motif khas. Salah satu yang paling dikenal adalah motif Hatta. Motif garis-garis memanjang yang berlawanan arah dan membentuk kotak-kotak itu diberi nama langsung oleh mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Rumah Drs Hanuri HM, pemilik tenun di pinggir jalan sebelah kanan arah dari Jembatan Mahakam. Di depan rumah ada plang bertuliskan penenunan Sarung Samarinda yang merupakan pengerajin tenun sarung khas Samarinda. Rumah mereka terletak sekira 50 meter dari jalan raya. Haruni tak bisa memastikan tahun berapa nenek moyangnya itu memulai membuat sarung. Tapi dari perhitungan kemungkinan 300 tahun yang lalu. Selain Haruni, keturunan Pua Toa yang juga melanjutkan usaha penenunan sarung itu adalah Fatmawati-Akhmir. Rumah sekaligus tempat berjualan sarung Haruni juga menyediakan berbagai motif sarung khas Samarinda. Sedangkan lokasi penenunan ada di Gang Pertenunan yang hanya berjarak sepuluh meter. Ketika harian Poskota Kaltim masuk ke dalam gang yang memiliki lebar tak lebih dua meter itu, langsung disambut suara-suara ketokan berirama. Kletak, kletok, kletak, kletok. Suara itu bersumber dari aktivitas penenunan di masing-masing rumah warga. Salah satu warga setempat yang sudah sejak lama menggeluti aktivitas tersebut adalah Jariah. Saat itu dia sedang menenun sarung itu di teras depan rumahnya. Ada dua alat tenun yang disebut gedokan di teras rumah ibu empat anak itu. Yang satu terlihat sudah lama dan ditaruh benang-benang warna hitam dan merah. Satunya lagi terlihat masih baru dan belum dilengkapi beberapa peralatan penunjang. Gedokan adalah alat tenun dari kayu. Untuk menenun, benang-benang itu disusun memanjang, lalu melewati barisan besi kecil. Sementara penenun duduk menghadap gedokan. Dan, suara ketokan itu bersumber dari hantaman dua batang kayu oleh penenun untuk menyusun benang-benang. Di gang itu hampir semua warganya khususnya para ibu, menggeluti aktivitas ini. Biasanya, menurut wanita yang memiliki lima orang cucu itu, di tiap rumah warga ada satu hingga dua alat tenun. “Penenunnya banyak, tapi enggak di satu tempat gitu. "Ya banyak di rumah-rumah orang," kata wanita ramah Fatimah. Dia mengaku sudah mulai menenun sejak masih kecil. "Sekarang enggak tentu juga berapa lama kita bisa selesaikan satu sarung. Tapi biasanya tiga hari lah," terangnya.aon
|
Baca Edisi Cetak Harian Umum Poskota Kaltim

KAMIS
New User Login
Video News
To watch this video, you need the latest
Flash-Player and active javascript in your browser.
Pasang iklan anda disini...
Iklan...
Baca Edisi Sebelumnya
Pasang iklan anda disini...