Pejuang Disuguhi Nasi BungkusLaunching Buku “Kabut Perang Balikpapan
2010-11-20 15:23:10
BALIKPAPAN, Sungguh ironis, para pejuang Kota Balikpapan yang sudah uzur bahkan pejuang Antung Gufransyah yang hadir dengan menggunakan kursi roda, karena menderita sakit stroke dalam acara launcing buku “Kabut Perang Balikpapan” di Aula Rumah Dinas Jabatan Walikota Balikpapan, Minggu (14/11) harus memendam kekecewaan yang amat sangat mendalam. Acara yang dikemas akan dimulai pada pukul 11.00 Wita hingga selesai, molor beberapa waktu guna menunggu kehadiran para pejabat yang telah diundang, namun dari pihak Pemkot Balikpapan hanya diwakili oleh Kabag Humas H Aji M Sofyan SH yang sekaligus membuka dan membacakan sambutan Walikota Balikpapan. Tapi setelah itu, Aji Sofyan pun langsung meninggalkan tempat acara. Tinggallah para pejuang diantaranya Abdul Karim, Sikah, PJD Koesman, Antung Gufransyah, Syafri Nawawi, istri, anak dan cucu pejuang seperti H Afiudin alias Fi’I (anak pejuang H Zainal Abidin Serang Musa), Mansyah SH (anak pejuang Djafar), Cumpung dan Maulidin (anak dan cucu pejuang HM Junus), Sumaria Daeng Toba, Asliansyah (anak pejuang Asnawi Musa), Budi Utomo (anak pejuang Sidik Tasmin), Radiyah (anak pejuang HM Sarkawie Basrie/Laksa Witarsya), Nani Erlina (anak pejuang Achmad Suganda), Linda (anak pejuang Djapri Endek), Haniah dan Hasanuddin (anak dan cucu pejuang Daeng Bileng Halide), Aida Citra (anak pejuang Saerah), Oleng (anak pejuang Mappa Lambah) dan lain-lain. Peluncuran buku sejarah yang pertama di Balikpapan dan rencananya akan diadakan lelang itu, semula akan dilaksanakan di Kebun Sayur Plaza pada 8 September 2010 lalu, namun oleh Kabag Umum Pemkot Balikpapan H Suriansyah menginformasikan kepada ketua panitia Ir Rafidah, bahwa Walikota minta launching untuk ditunda dulu dan akan dilaksanakan di rumah dinas jabatan Walikota, dan akan dilaksanakan pada 25 September 2010. Tapi launching kembali mengalami penundaan tanggal 2 Oktober, ditunda lagi tanggal 10 Nopember bertepatan dengan Hari Pahlawan, juga ditunda. Setelah salah seorang panitia M Ibrahim bertemu Walikota Balikpapan di sela-sela tabur bunga di Makam Pahlawan Dharma Agung, dan Walikota memastikan launching bisa dilaksanakan di rumah dinas jabatan Walikota pada Minggu, 14 Naopember 2010. Panitia kembali meluncurkan surat-surat permohonan izin dan konsumsi bagi sekitar 300 undangan kepada Kabag Umum Pemkot Balikpapan yang diterima langsung oleh Kasie Umum Siswanto, Kasubag Protokol Balikpapan dan Kepala Rumah Tangga Rumah Dinas Jabatan Walikota Balikpapan. Surat-surat tersebut menggantikan surat permohonan terdahulu yang oleh Pemkot sudah dianggap kadaluwarsa. Acara yang dipandu langsung oleh moderator Ahmad Yani, narasumber pejuang Abdul Karim, Koesman, Syafri Nawawi, anak pejuang Mansyah SH, penulis Herry Trunajaya BS/Muhammad Asran dan pembanding Bachtiar Effendi SE, mantan Ketua Ikatan Wartawan Balikpapan (IWB) tetap berlangsung hingga tuntas. Ke tidak hadiran seorang pun pejabat Pemkot yang berwenang memicu emosional Muhammad Asran yang dengan lantang menuturkan, kendala yang dihadapi ketika menghimpun data para pejuang dari Balikpapan, Samboja dan Samarinda hampir satu tahun, ternyata lebih susah lagi kendalanya ketika akan melaunching buku tersebut. Asran dengan suara lantang dan meneteskan air mata direspon hadirin yang juga ikut terharu. Ketika Sumaria, anak pejuang Daeng Toba menyentil suguhan nasi bungkus untuk para pejuang dan hadirin yang seperti nasib para pengungsi musibah Gunung Merapi atau para pendemo makin terkesima ketika mengetahui nasi bungkus itu merupakan antisipasi dari panitia, karena ternyata pihak Pemkot Balikpapan hanya menyediakan tempat acara. “Daripada malu, lebih bagus malu-maluin sekalian,” terang Muhammad Asran. Mansyah SH, anak pejuang Djafar menuturkan, para pejuang memang tak mengharapkan apa-apa dari pengorbanan mereka. Tapi kalau bisa hendaknya pemerintah lebih punya empati kepada mereka yang dulu mempertaruhkan jiwa dan raga mereka mempertahankan keberadaan Kota Balikpapan ini. Anak pejuang dan para hadirin pun amat menyesalkan apa yang terjadi dalam acara launching tersebut. Seperti guru SMP Negeri 2 Balikpapan Retia menuturkan, baru mengetahui kalau di Balikpapan juga ada gejolak perjuangan. “Selama ini yang kami ajarkan pada para murid hanya sejarah perjuangan di Sanga Sanga dan peristiwa Tri Sakti yang menewaskan seorang mahasiswa Balikpapan bernama Hendriawan Sie yang namanya sudah diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Gunung Sari Ilir, tapi dengan adanya buku berjudul Kabut Perang Balikpapan ini, kami pun tahu di Balikpapan ternyata pernah ada perjuangan melawan penjajah,” katanya. Begitu juga pengusaha muda Balikpapan Hendra Pasetyo dan Ketua KNPI Balikpapan Barat Maulidin, cucu pejuang HM Junus yang sangat menyesalkan kondisi tersebut. Seluruh anak pejuang dan para pejuang juga menginginkan pemerintah bisa mengabadikan nama-nama para pejuang sebagai nama jalan-jalan di Balikpapan, menggantikan nama-nama jalan yang tak ada historisnya sama sekali. “Cuma itu keinginan yang kami harapkan, dan juga merenovasi tugu pejuang 13 Nopember 1945 di kawasan Karang Anyar, agar lebih layak lagi,” harapnya.*mid
|