Keperuntukan ADD Demi Kesejahteraan Rakyat Diusulkan untuk Modal Usaha
2010-11-23 04:57:21
SANGATTA - Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2010 baru cair dalam beberapa minggu belakangan ini. Keterlambatan pencairan dana ini selain karena birokrasi, juga disebabkan banyak warga khususnya pengelola di desa yang tidak paham prosedur pencairan dana ini. Keterlambatan pencairan dana menjadi salah satu masalah dalam pelaksanaan proyek yang dibiayai dari ADD yang nilainya antara Rp 500 juta hingga miliaran rupiah. “Jadi masalah karena baru cair menjelang akhir tahun. Jadi, agar proyek dilaksanakan sesuai rencana kebanyakan desa melaksanakan proyek sebelum dana dicairkan. Setelah cair, langsung dibayarkan. Jadi sistem pinjam saja,” kata Camat Muara Ancalong Syafranuddin. Jika proyek nilainya kecil, agak mudah mencari solusinya. Kalau dananya di atas Rp100 juta, maka yang jadi kendala adalah proyek harus dilelang sesuai ketentuan dalam Keppres 80 Tahun 2003. Banyak masyarakat yang tidak memahami cara ini. Waktu untuk lelang membuat pelaksanaanya bisa molor. Agar ADD ke depan lebih menggairahkan ekonomi rakyat, maka menurutnya akan diusahakan agar dikelola sebagai modal. Sebab proyek fisik saat ini banyak dikerjakan oleh dinas seperti PU dan dinas teknis lainnya. Karena tujuan untuk dana ADD, selain untuk proyek fisik, juga untuk proyek non fisik. Karena itu, maka dana ini dapat pula dipergunakan untuk permodalan, sesuai dengan kepentingan masyarakat desa. Hanya, agar lebih efektif, harus dikelola dalam bentuk koperasi atau kelompok masyarakat. Dikatakan, sebenarnya di beberapa daerah, banyak potensi ekonomi yang dapat dilakukan masyarakat. Hanya karena modal kurang sehingga tidak dapat memberikan nilai tambah. Dengan adanya ADD yang dijadikan sebagai modal, yang dikelola dengan sistem koperasi atau kelompok maka ekonomi masyarakat setempat akan lebih bergairah. “Seperti di Muara Ancalong, potensi ikan sangat banyak. Hanya saja, agar dapat dijual ke daerah lain yang pasarnya lebih berpotensi, maka perlu diolah terlebih dahulu agar awet,” kata camat yang biasa dipanggil Ivan. Muara Ancalong jauh dari Sangatta maupun Samarinda. Sangat tak mungkin ikan segar dijual ke daerah lain, karena itu harus diolah terlebih dahulu. Selain dapat bertahan, maka nilai jualnya akan menjadi lebih tinggi dari harga ikan segar.***
|