Metode SRI Untungkan Petani dan Lingkungan2010-11-24 00:40:15
TENGGARONG- Penggunan metode dengan teknologi System Rice Intensification (SRI) pada budidaya tanaman padi dipastikan akan memberikan banyak keuntungan bagi petani dan karena sistem SRI tidak menggunakan pupuk bahan kimia, maka juga dipastikan ramah lingkungan. Kabupaten Kutai Kartangara yang menjadikan pertanian sebagai salah satu program yang diprioritaskan dalam menunjang program kesejahteraan rakyat di Kukar, dipandang perlu mengembangkan metode SRI dan itu sesuai dengan program pembangunan daerah yang ramah lingkungan sebagaimana sering diungkapkan Bupati Rita Widyasari di beberapa kesempatan. Beberapa hari lalu, budidaya tanaman padi yang ramah lingkungan dengan metode teknologi SRI dipresentasikan oleh Departemen Pertanian memalui konsultan SRI, Suwartanto dan Hendri kepada Pemkab Kukar. Presentasi yang berlangsung di ruang eksekutif kantor bupati tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Sumarlan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan M Syahran serta beberapa perwakilan pihak terkait. Suwartanto dalam penjelasanya mengatakan, produktivitas dan kesejahteraan petani dengan ketergantungan terhadap pupuk berbahan kimia yang tidak ramah lingkungan dengan biaya tinggi sehingga pupuk harus disubsidi pemerintah, menjadi latar belakang Departemen Pertanian mencari inovasi baru dengan mempelajari teknologi SRI. Teknologi SRI adalah cara budidaya tanaman padi intensif dan efisien dengan proses managemen sistem perakaran yang berfokus pada pengelolaan agroekosistem, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berbasis pada tanah, tanaman dan air. Menurutnya, permasalahan pertanian saat ini adalah menurunnya produksi padi dan meningkatnya harga pupuk dan pestisida, juga masalah hama penyakit tanaman yang sangat menggangu petani. Itu karena kualitas tanah yang tidak sehat disebabkan degradasi kimia, fisika, dan biologi, dimana tanah jadi keras sulit diolah, respon pemupukan rendah, asam, kadar unsur hara rendah serta miskin bahan organik. Pencemaran dari sisa penggunaan produk pertanian berbahan kimia menyebabkan terjadinya ganguan siklus kehidupan biota, sehingga keanekaragaman plasma nuftah terancam punah. Serangan hama penyakit meningkat sebagai akibat ganguan ekosistem. Upaya peningkatan produksi secara instan melalui intensifikasi dengan penggunaan pupuk dan pestisida kimia, membuat tingkat kesuburan tanah semakin rendah dan berakibat turunnya hasil produksi. Pada umumnya, untuk mengatasi hal itu petani mengupayakannya dengan meningkatkan biaya produksi, seperti peningkatan penggunaan kuantitas dan kualitas benih, pupuk dan pestisida atau insektisida. Cara tersebut (penambahan biaya produksi, red) pada awalnya memberikan hasil yang memadai, namun akibat jangka panjang dari penggunaan bahan kimia itu berdampak pada hasil produksi selanjutnya yang akan terus menurun. Karenanya, demi menjaga dan meningkatkan produksi, petani sudah seharusnya mengubah pola dengan menerapkan metode SRI, yang diyakini akan menguntungkan, baik segi produksi maupun biaya. yd
|