Jembatan Nipahnipah-Melawai Hemat Waktu dan Biaya2010-11-24 00:47:57
BALIKPAPAN, Pembangunan jembatan yang direncanakan pemerintah kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) perlu dukungan semua pihak karena dinilai akan banyak memberikan dampak positif dari berbagai sisi terutama masalah ekonomi, hanya saja memang perlu dilakukan kajian mendalam termasuk melakukan analisis kelayakan dari berbagai sisi dan kami melihat pembangunan itu dari sisi ekonomi. Demikian dikatakan Ir. Soni S Wibowo, MT, PhD Ahli Rekayasa ITB, ketika membawakan materi dalam seminar sehari Kebutuhan Jembatan Bentang Panjang Jembatan Nipahnipah-Balikpapan di Hotel Menara Bahtera, Selasa (23/11) kemarin. Menurut dosen ITB ini, tiap daerah yang ada di Indoensia diberi kesempatan untuk membangun berbagai sarana dan prasarana infrastruktur karena kewenangan otonomi daerah dan PPU mulai memunculkan gagasan untuk membangun jembatan benatng panjang yang menghubungkan kota Balikpapan ke Nipahnipah, Kabupaten PPU sepanjang 4,4 Km. Menurut Soni, pembangunan ini memang perlu dukungan serius baik dari kalangan masyarakat yang ada di Kalimantan khususnya pemerintah di Kota Balikpapan dan PPU serta beberapa daerah tingkat II atau kota/kabupaten lainnya, sebab ketika jembatan itu terbangun maka nilai positifnya tidak hanya dirasakan oleh PPU atau Balikpapan tapi juga daerah-daerah lain di Kalimantan. "Dari analisa kelayakan yang kami buat memang tahun 2006 memang sudah cukup lama sedangkan saat ini kita sudah berada di tahun 2010 namun kami yakin itu tidak terjadi pergerakan yang berbeda jauh, kita masih mengacu pada hasil analisis lalu. Dan kami temukan beberapa hal penting terutama kaitan dengan pembangunan fisik jembatan itu dimana panjangnya mencapai 4,4 Km dan biaya yang akan terserap dibangunan itu mencapai Rp. 2,7 triliun," paparnya. Selain itu masih harus dilihat sarana dan prasaran jalan pendukung di jembatan itu dimana akan didukung dengan jalan pendekat sepanjang 2,5 Km dan biaya yang bakal terserap diproyek jalan pendekat dimaksud mencapai Rp. 12,5 miliar sedangkan biaya pemeliharaan sebesar 1,00 persen dari total investasi yang terserap, sedangkan dengan hadirnya jembatan itu akan terjadfi penhematan biaya operasional kendaraan dan waktu tempuh. Kalau bicara dari sisi penghematan memang akan terlihat secara jelas ketika kita tidak memiliki jembatan itu dengan ketika jembatan itu ada, maka aka nada beberapa komponen penghematan seperti waktu tempuh menuju PPU dan daerah lain dari Balikpapan akan lebih pendek, termasuk konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Penhematan lain adalah konsusmi ban setiap kendaraan bermotor akan terlihat seperti biaya pemeliharaan, biaya depresi, bunga modal dan asuransi, selain itu selama ini masyarakat PPU yang harus mendapatkan perawatan khusus di sejumlah rumah sakit di Balikpapan akan lebih cepat tiba di Balikpapan dan itu akan Nampak terjadi penghematan serta waktu tempuh yang lebih singkat. Menurut Koordinator Persatuan Perintis Kemerdekaan Indonesia Kalimantan Timur, Andi Agoes, SH selain penghematan transportasi dan waktu tempuh bagi keluarga yang membawa pasien untuk dirujuk di rumah sakit yang ada di Balikpapan juga akan terjadi percepatan yang sangat luar biasa bagi keberangkatan jemaah calon haji baik dari PPU dan Kabupaten Pasir, selain itu masih banyak keutntunbgan loain yang bisa dirasakan oleh masyarakat umum dan tidak hanya dirasakan oleh pemerintah baik kota Balikpapan maupun kabupetn PPU. Masih menurut Soni, dari rekomendasi yang ada, rencana pembangunan jembatan PPU-Balikpapan akan berdampak positif untuk wilayah PPU dari sisi percepatan perkembangan wilayah karena akan mengikuti perkembangan kota Balikpapan, selain itu analisis transportasi sistim jaringan jalan menghasilkan perkiraan nilai penghematan waktu dan BOK yang cukup baik. Selain itu, katanya lagi dari sisi kelayakan ekonomi, rencana pembangunan jembatan memiliki nilai EIRR dibawa 10 persen dengan masa analisa selama 50 tahun, dengan catatan jembatan itu memiliki umur layan selama 100 tahun, hanya saja dari sisi financial, pembangunan jembatan itu memiliki indikator kelayakan yang rendah. Dia mencontoh, indicator kelayakan yanhg rendah seperti biaya investasi yang besar tidak sebanding dengan penerimaan dari tol dengan volume lalulintas yang relative rendah, selain itu perlu dipertimbangkan kerjasama dengan investor yang lebih luas yang tidak hanya pembangunan jembatan, tapi juga sector lainnya yang akan tumbuh akibat dibangunnya jembatan itu. max
|