Pasca Banjir Penyakit Kulit Serang Warga2010-11-24 04:54:11
SENDAWAR – Banjir yang menggenangi 8 desa di Kecamatan Muara Lawa sejak 11 November lalu sudah mulai surut. Jalan raya yang sempat terendam banjir sehingga membahayakan pengendara, terlebih pengendara roda 2, tak lagi terendam. Banjir yang menggenangi Muara Lawa membuat aktivitas masyarakat nyaris lumpuh total, karena selain rumah, kantor kecamatan, sekolah, jalan, dan kantor Polsek, banjir juga menggenangi lahan pertanian. Akibatnya masyarakat menderita kerugian yang cukup besar. Dampak lain dari banjir adalah banyak warga yang menderita penyakit kulit, terutama anak-anak. Ini akibat masyarakat lebih memilih tetap bertahan di rumah walau sudah terendam banjir. Selain itu, untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) warga juga menggunakan air banjir karena tak ada air bersih. “Warga mulai terserang penyakit kulit, terutama anak-anak,” ujar Asni, sekretaris Desa Kampung Muara Lawa. Selain itu, dia berharap ada bantuan penyediaan air bersih ke warga. Selama ini warga menggunakan air isi ulang yang bersumber dari sungai yang sudah diolah jadi air bersih. “Sebagai pemerintah kampung, kami selalu ditekan masyarakat untuk pengadaan air bersih. Hal ini sudah beberapa kali kami sampaikan ke pemerintah kabupaten, tapi belum ada realisasi,” ujarnya. Dikatakan, setidaknya ada 6 perusahaan batu bara di sekitar kecamatan, tapi sampai saat ini belum ada bantuan pengadaan air bersih. “Seharusnya perusahaan itu memberikan kontribusi ke warga. Ya, salah satunya pengadaan air bersih,” harapnya. Banjir yang melanda Kecamatan Muara Pahu, bulan ini adalah yang keempat kali untuk tahun 2010. “Hingga November 2010 setidaknya Kecamatan Muara Lawa sudah 4 kali terendam banjir yaitu April, Mei, Oktober, dan November ini. Yang terparah April lalu. Ketinggian air mencapai 3 meter. Selain perkampungan, jalan yang menghubungkan Kubar-Samarinda juga putus total,” jelas Suhaimi, kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Trantip) Kantor Kecamatan Muara Lawa. Sementara itu, Ranoto warga Kampung Lambing mengatakan, saat banjir sebagian besar masyarakat bertahan di rumah dengan membuat para-para.”Masyarakat sudah terbiasa dengan banjir. Selain itu, tidak ada tempat untuk mengungsi,” jelasnya. Pemkab Kubar perlu memikirkan solusi agar kejadian serupa tidak terulang lagi di tahun mendatang. ***
|