Warga Demo PT Kilang Bujangga Interbuana2010-11-30 03:56:12
TANJUNG REDEB-Puluhan warga Bujangga Kelurahan Bedungun mendemo pengelola SPBU 64.773.05 PT Kilang Bujangga Interbuana (KBI) Senin kemarin (29/11) pukul 15.30 wita. Warga meringsek masuk SPBU untuk menemui langsung pimpinan perusahaan untuk menyampaikan poin-poin tuntutan. Warga meminta perusahaan memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar. Sayangnya tak satupun pimpinan perusahaan yang menemui pendemo. Sementara staf perusahaan menyebutkan pimpinan sedang berada di Banjarmasin.
Massa kemudian dihalau petugas dari kepolisian Polres Berau yang berjaga-jaga sebagai antisipasi hal terburuk, mengingat massa berada di areal SPBU yang berisi bahan bakar mudah terbakar. Sebagai upaya penguatan maksud pendemo, beberapa wakil dipersilahkan bertemu wakil perusahaan yang berada ditempat. “Tapi saya juga tidak dapat memberikan kepastian apa-apa karena kebijakan ada pada pimpinan, sementara beliau masih ada di Banjarmasin,” ungkapnya. Terdapat 7 poin tuntutan warga, yakni meminta minimal 50 persen pekekrja SPBU adalah warga lokal Bujangga, menurap sungai yang bersebelahan langsung dengan SPBU, mengasuransikan rumah-rumah warga sekitar SPBU minimal radius 500 meter. “Kami juga meminta perusahaan mengalokasikan dana CSR atau Comdev kepada warga Bujangga dalam hal pemberdayaan masyarakat sekitar,” kata Syarifudin koordinator lapangan pendemo. Selain itu, warga juga menuntut adanya fasilitas berupa kemudahan untuk pengisian bahan bakar bagi warga sekitar. Pelabuhan tambat kapal pengisian BBM SPBU juga diminta untuk dipindahkan karena dianggap menggangu. “Yang terpenting kami meminta untuk meninjau ulang tentang penerbitan Amdal, SITU, SIUP dan HO pada saat pendirian,” ujar Wagimin wakil pendemo lainnya. Lantaran tidak menemui jawaban pasti, warga menuntut adanya pertemuan langsung dengan pimpinan perusahaan. “Baik, kami terima masalah surat menyurat terkait permasalahan ini, tapi biarkan kami juga untuk bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan agar dalam penyampaian dapat lebih jelas lagi ddan lebih efektif,” ujar Syarifudin lagi. Warga sekitar SPBU merasa kurang aman dengan keberadaan SPBU tersebut. Terlebih pasca sempat terjadinya kebocoran pipa premium hingga tumpah ke drainase area SPBU pada bulan Oktober lalu. Hal ini lebih menguatkan lagi tuntutan warga kepada pengelola. Terlebih sampai saat ini perusahaan disebutkan belum pernah memberikan kontribusi apapun kepada warga baik melalui dana CSR dan Comdev. “Ada atau tidak adanya SPBU ini tidak ada dampaknya kepada masyarakat sini, dulu sebelum ada kita BBM lancar-lancar saja, sekarang biarpun ada toh masih juga antri panjang, malah kita merasa tiidak aman ada SPBU ini,” ujar salah seorang warga. as
|