Dikhawatirkan Warga Bertindak SendiriTerkait Perselisihan Sarang Burung Walet Ranggasan
2010-12-03 15:40:50
TANJUNG REDEB-Kepala lembaga adat dayak Berau, Jiang Bith mengharapkan secepatnya ada keputusan yang dapat disepakati bersama oleh perusahaan PT Walet Lindung Lestari (Walesta) dan warga terkait permasalahan bagi hasil panen goa Ranggasan di Kecmatan Kelay. Hal itu menurutnya mengantisipasi permasalahan yang berkepanjangan dan berpotensi konflik. Ditemui media ini, Jiang Bith mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sikap warga yang bisa bertindak sendiri jika tidak ada kepastian tetap. “Kita sadari sampai hari ini, warga masih dapat kita redam sehingga kondusifitas masih terjaga, yang dikhawatirkan warga kehabisan kesabaran dan bertindak sendiri dengan cara menggunakan hukum adat, jika sudah menjalankan hukum adat artinya sarang itu diambil semuanya tidak dibagi-bagi lagi, tentu ini sangat memungkinkan terjadi konflik,” ungkapnya. Sebagai ketua, diakui aspirasi warga patut diakomodir dengan pertimbangan aspek hukum yang berlaku juga berdasarkan kesepakatan tanpa merugikan pihak lain. Juga masih terus berupaya agar ada ada kesepakatan yang bisa dihasilkan dalam perundingan satu meja. Bermula pada sengketa hasil panen periode terakhir, sejumlah 770 kg, permasalahan masih terus berlanjut hingga pada rumusan bagi hasil panen berikutnya dan seterusnya. Selama 12 tahun kata Jiang Bith, warga hanya bisa melihat dan gigit jari terhadap hasil panen. “Sementara apa yang mereka dapat, jangankan untuk kekayaan pribadi, fasilitas umum saja tidak ada. Sudah cukup sabar warga disana, belasan tahun tidak dapat apa-apa, bahkan laporan-laporan warga kerap perusahaan panen lebih banyak dibandingkan dengan yang dilaporkan kepada pemerintah daerah, sekarang warga disana tidak bisalagi dibodohi terus, mereka juga banyak yang sekolah tinggi kok, makanya sekarang mereka tidak tinggal diam, sekarang saatnya semua mencarikan solusi terbaik,” paparnya. Sebab ada indikasi warga berniat menjalankan hukum adat, dan akunya, hal itu sangat tidak diharapkan. “Kalau sampai terjadi biasanya warga sudah siap mati itu, sangat besar harapan kami jangan sampai terjadi,” sebutnya lagi. Seperti sempat diwartakan media ini sebelumnya, kepala Kampung Merabu, Asrani mengungkapkan, saat ini warga masih menunggu kejelasan. “Jika tidak ada kesepakatan warga siap jalankan hukum adat,” tegasnya. Goa Ranggasan kini berada dalam pengawasan warga. Diharapkan aparat tidak membuat gerakan yang dapat menimbulkan asumsi salah di masyarakat. Sebab, warga dipastikan menjaga sarang dengan damai tanpa ada niat buruk untuk mencuri atau menggelapkan hasil panen. Dia juga mengungkapkan, warga yang tengah disulut emosi kadang berasumsi salah jika melihat aparat dengan senjata lengkap maupun orang asing. as
|