Target 6.155 Akseptor Baru Sulit Terpenuhi2010-12-08 16:06:23
BONTANG-Berdasarkan hasil Konsolidasi Perencanaan Daerah (KORENDA) yang dilaksnakan BKKBN Provinsi Kaltim Nopember lalu, telah menargetkan keikutsertaan akseptor baru atau Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM) di kota Bontang sebesar 6.155 calon akseptor dinilai terlalu berat untuk dipenuhi. “Kami meminta BKKBN Provinsi Kaltim untuk meninjau kembali target tersebut,” kata Kasie Advokasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP dan KB) kota Bontang, Drs Sutrisno, ketika menerima kunjungan tim Advokasi BKKBN Kaltim, Senin (6/12). Ia mengatakan penijauan ulang itu, berdasarkan dari keinginan pasangan yang baru nikah yang Ingin Anak Segera (IAS) sebesar 2.399 orang. Dalam rumusan Korenda bahwa sasaran kinerja peserta KB baru Kaltim, sebanyak 102.000 yang terdiri dari peserta KB baru miskin dan rentan 43.670, KB Mandiri 58.330,MKJP 9.910 dan peserta KB Baru pria 9.720. Dalam draft kontrak Kinerja propinsi (KKP) pencapian peserta KB baru per jenis kontrasepsi untuk Bontang masing-masing IUD 559,MOW 92,MOP 35,Kondom 536, Impant 382,Suntikan 3.277 dan Pil 1.274 dengan jumlah total 6.155. "Untuk kondisi Pasangan Usia Subur (PUS) kota Bontang berdasarkan laporan hingga akhir Oktober 2010 dari total PUS sebesar 27.586 dengan kepersetaan KB aktif 20.790 dan tidak ber KB sebesar 6.796 degan rincian (Hamil),IAS 2.399, IAT sebanyak 1.610 dan TIAL ," kata Sutrisno. Sedangkan, Program Keluarga Berencana di kota Bontang tahun 2010 telah dirumuskan, lewat review. Hasilnya perlu adanya dukungan dalam pelaksanaan program oleh lintas sektor, sosialisasi secara berjenjang. Perlu dilaksanakan upaya pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada lini lapangan, peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak. Menurutnya pelaksanaan program pemberdayaan perempuan di masing-masing SKPD dapat dibangun responsif gender. Sedangkan penanganan KDRT agar bekerjasama dengan lintas sector, serta peran generasi muda untuk melaksanakan perwakinan diusia yang ideal antara 20 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Menumbuh kembangkan pusat informasi dan konseling-remaja (PIK-KRR) di seluruh wilayah yang memiliki potensi usia remaja. Mengajak kepada pasangan usia subur (PUS) untuk mengikuti program KB demi kesehatan ibu dan anak. "Program mendasar lainnya, memberikan perhatian terhadap ibu hamil agar terjaga kelangsungan hidup ibu bayi dan anak (KHIBA) pada waktu melahirkan dan dian jurkan memakai kontrasepsi pasca melahirkan. Membina kelangsungan peserta KB sehingga dapat mengurangi angka drop out (DO),juga setiap bulan rumah sakit, klinik, bidan dan dokter dapat melaporkan data capaian program " ungkap Sutrisno. Dia menambahkan selain itu revitalisasi rumah sakit dan puskesmas dalam pelayanan KB perlu dimantapkan. Sedangkan upaya merubah pandangan dan sikap masyarakat terhadap perencanaan keluarga perlu ditingkatkan dan dilakukan secara berkesinambungan. Guna pemperoleh kemitraan, dukungan moral dan operasional para tokoh masyarakat (LSOM) dan swasta perlu ditingkatkan peran PPKBK, Keberadaan Poktan-Poktan Catur Bina (BKB,BKR,BKL dan BLK pada masing-masing kelurahan perlu dimantapkan kegiatannya. "Pembinaan secara berkala kepada kelompok UPPKS yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan terjaga keberlangsungan kesertaan ber KB bagi anggotanya. Serta mengembangkan sistem informasi manajemen program KB Nasional (SIM-PKBN) berbasis teknologi informasi," ujar Sutrisno. john
|