Konversi Lahan Non Pertanian Sebabkan Penurunan Produksi Padi2010-12-23 06:52:49
SAMARINDA-Kepala Dinas Pertanian Kaltim Eddy Heflin menjelaskan, besarnya alih fungsi lahan atau konversi dari pertanian menuju sektor non pertanian, diantaranya pertambangan mengakibatkan pencapaian program Swasembada beras di Kaltim mengalami keterlambatan. Selain itu, tingginya pertumbuhan penduduk Kaltim yang kini berjumlah 3,5 juta penduduk dari sebelumnya 3,1 juta, menambah beban pencapaian target swasembada beras tersebut. Demikian dijelaskan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Eddy Heflin saat memberikan jawaban terhadap pertanyaan Komisi IV DPR yang membidangi pertanian, kelautan, perkebunan dan kehutanan, Senin malam. "Alih fungsi lahan pertanian pangan dan hortikultura untuk non pertanian cukup mengkhawatirkan dan akan menghadapi kesulitan dalam mengimbangi penambahan baku lahan cetak sawah setiap tahunnya,"kata Eddy Heflin saat memberikan jawaban terhadap pertanyaan Komisi IV DPR yang membidangi pertanian, kelautan, perkebunan dan kehutanan senin Malam lalu. Menurutnya, dalam waktu empat tahun dari 2006 sampai 2009, sawah yang dapat ditanami dua kali setahun berkurang dari 35.913 hektar menjadi 25.492 hektar. Terjadi penurunan pertanian fungsional sebesar 10.421 hektar,”tandasnya. Selain lahan pertanian yang ditanami dua tahun sekali yang banyak mengalami konversi lahan, lahan pertanian yang ditanami setahun sekali dan lahan padi ladang juga mengalami penurunan. Sebenaranya, potensi lahan padi di Kaltim masih cukup besar yaitu mencapai 206.480 hektar. Namun potensi tersebut baru termanfaatkan sekitar 111.332 hektar atau 53,91 persen saja. Sehingga masiih ada potensi lahan pertanian sebesar 95.158 hektar yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. “Masalahnya sekarang adalah, dari 95.158 hektar tersebut, kebanyakan berada di kabupaten yang berada di pedalaman dan terpencil serta tidak memiliki penduduk yang cukup untuk menggarap atau mencetak lahan pertanian. Lahannya ada, penduduknya tidak ada,” jelasnya. Faktor lainnya yang mempengaruhi penurunan padi di tahun 2010 ini alah factor cuaca kering yang cukup panjang di beberapa kabupaten/kota yang mengakibatkan bergesernya musim tanam. “Yang juga perlu diwaspadai dalam peningkatan produksi padi adalah serangan Organisme pengganggu tanaman atau hama, seperti tikus, penggerek batang ,blas dan hama wereng baik yang hijau maupun wereng colkat,” jelasnya.mar
|