Belum Sepenuhnya Pemerintah Perhatikan Perbatasan2010-12-27 05:39:01
BALIKPAPAN, Koordinator Perintis Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PPKRI) Wilayah IV Kalimantan H.Andi Agus Y SH mengucapkan terima kasih kepada Wakil Presiden RI Ir. Budiono mengunjungi pulau Sebatik yang merupakan daerah perbatasan Indonesia yang ada di wilayah utara Kaltim beberapa waktu lalu. Tapi sangat disayangkan tidak sempat mengunjungi 225 desa tertinggal yang jarang disentuh oleh pejabat pusat. Seperti daeah Sebuku, Sebakung, Long Pisai, Kerayan dan Long Biyai. Dijelaskan Andi Agus daerah tersebut hanya sering didatangi oleh TNI, bahkan TNI ikut membantu mengajar sebagai guru di daerah tersebut. Sebenarnya tugas TNI mengamankan dan menyelamatkan bangsa ini dari ancaman dari luar. Sehingga masyarakat didaerah ini lebih banyak mengenal TNI, dengan program AMD ( ABRI Masuk Desa ). Perlu diketahui oleh pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Pertahanan RI, bahwa TNI yang ada di Perbatasan tugasnya cukup berat selain mengamankan masyarakat yang ada diperbatasan agar tidak meninggalkan Indonesia, TNI juga ikut menyelamatkan masyarakat di perbatasan dengan cara menjadi guru. TNI mengajarkan ilmu yang telah dimilikinya karena banyak guru yang tidak mau dikirim kedaerah tersebut untuk mengajar. Dikarenakan belum ada infrastruktur dan biaya hidup yang cukup tinggi. “Saya bangga dengan perjuangan TNI, untuk itu perlu di acungi jempol buat Panglima Kodam Mulawarman yang mengirimkan pasukannya dan telah banyak membantu masyarakat yang ada di perbatasan dan sekaligus ikut membantu mencerdaskan masyarakat yang ada di daerah tersebut, “ungkap Andi Agus, kemarin. Masih menurut Andi Agus, wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia yang terletak di wilayah utara Kalimantan timur sudah saatnya mendapat perhatian khusus oleh pemerintah daerah maupun pusat. Karena kondisi yang ada diwilayah tersebut setelah 65 tahun Indonesia merdeka sampai sekarang kondisi yang ada di 225 desa yang berada di wilayah perbatasan ini kehidupannya sangat menyedihkan sekali dan ini bisa dikatakan daerah yang ada diwilayah ini masih belum merasakan arti kemerdekaan. “Kehidupan masyarakat di desa tersebut benar-benar sanmgat memprihatinkan, belum pernah menikmati dan mendapatkan pasokan listrik , air bersih dan sarana pendukung lainnya.Untuk bahan bakar seperti minyak tanah, solar dan bensin harganya sangat mahal dan mencapai Rp. 75 ribu/liter, “tutur Andi Agus. Andi Agus yang sering melakukan perjalanan ke wilayah perbatasan tersebut menilai harga BBM yang ada diwilayah tersebut mahal, dikarenakan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah apalagi pemerintah pusat belum sampai kedaerah yang ada di wilayah perbatasan. Karena kondisi yang ada didaerah ini belum dapat ditembus dengan jalan darat, tidak adanya infrastruktur darat yang menghubungkan daerah perbatasan dengan daerah lainnya. Untuk mendapatkan kebutuhan Sembilan Bahan Pokok ( Sembako ) saja masyarakat yang ada diderah tersebut harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh ,dan andi menilai harga didaerah tersebut seperti gula bisa mencapai Rp 25 ribu/kilo. Andi Agus yang di juluki “Harimau Putih” dari wilayah utara Kaltim ini menjagak Gubernur Kaltim Awang Faroek agar masalah pembangunan wilayah perbatasan harus menjadi perioritas. Apalagi gubernur Kaltim merupakan putra daerah yang faham betul tentang Kaltim dan jangan hanya diam. “Perdayakan masyarakat Kaltim untuk membangun daerahnya, sehingga bisa menekan sekecil mungkin TKI ke Malaysia, “pintanya. Perlu dibangun kantor pelayanan untuk publik yang sangatdibutuhkan masyarakat, lanjut Andi Agus. Jika transportasi darat sudah mudah dijangkau dengan sendirinya keluar masuk kebutuhan bahan pokok untuk diwilayah perbatasan ini akan lebih muda. Dan tentu harga tidak semahal seperti sekarang . “Atas nama rakyat Kaltim saya meminta para pejabat jangan hanya study banding ke luar negeri dengan tujuan tidak jelas. Karena masih terlalu banyak daerah tertinggal di perbatasan yang belum di sentuh dan di kunjungi oleh meraka (pejabat), “pinta Andi Agus. Khusus masalah pendidikan masih menjadi kendala utama, dimana kegiatan belajar mengajar ada yang berlangsung di bawah kolong rumah. Sekolah yang adapun masih banyak yang tidak layak digunakan untuk sarana belajar mengajar. Banyak anak sekolah yang tidak bersepatu dan tidak berseragan, ini terjadi karena penghidupan mereka masih sangat susah. “Untuk itu saya minta pemerintah daerah dan pusat agar secepat mungkin mengatasi hal ini, dengan dibentuknya Dinas Perbatasan. Dengan dibentuknya dinas ini dapat mempercepat pelaksanaan pembangunan didaerah perbatasan, "imbuhnya.edy
|