Kalimarau Tempo DuluTeluk Bayur Jadi Pintu Gerbang
2010-12-28 04:31:11
MENELISIK sejarah singkat perkembangan Bandara Kalimarau yang terletak di wilayah Kecamatan Teluk Bayur Kabupaten Berau, memang cukup menarik disimak. Perlu diketahui, Teluk Bayur ini dulunya adalah sebuah kota pusat industri batubara, yang ditandai dengan hadirnya perusahaan Stenkollen Matschappy Parapattan (SMP). Seiring dengan itu, perusahaan penambangan batu bara yang berdiri pada 1912 itu menandai terbukanya Teluk Bayur bagi para pendatang dari berbagai daerah. Sedangkan Bandara Kalimarau berdiri sejak tahun 1976 lalu, dengan kategori bandara perintis. Kalimarau telah tiga kali ditingkatkan diantaranya mulai peningkatan landasan pacu (runway), fasilitas navigasi yang menjadikan Kalimarau kini masuk kategori kelas 2. Peningkatan Kalimarau pada awalnya panjang run way pada 1976 hanya 650 meter. Mengingat pesawat yang mendarat hanya pesawat kecil jenis MAF 506, dengan jumlah penumpang 5 orang dan 2 awak pesawat. Apron saat itu masih menggunakan plat. Memasuki 1990-an mulai ada peningkatan. Pesawat yang masuk jenis Cassa seperti Deraya, Pelita, Asahi, DAS dengan type 100 dan 200. Pada saat itu itu masih menggunakan runway lama, yang berada tepat di sisi jalan raya Teluk Bayur. Hingga 1997 pindah ke terminal baru yang digunakan hingga sekarang. Meski begitu telah banyak dilakukan renovasi mengimbangi untuk mengikuti perkembangan zaman, kelas Bandara Kalimarau masih lebih baik dibanding bandara di kabupaten lain, termasuk Bandara Temindung Samarinda. Pesawat yang beroperasi sedikit lebih baik lagi pada 2002 dibandingkan sebelumnya yakni jenis ATR 42 milik perusahaan penerbangan yang beroperasi di Kalimarau seperti Deraya, DAS, Kal Star. Kemudian sejak otonomi daerah (Otda) yang sebelumnya hanya mengandalkan APBN, dengan pendanaan APBD I dan II sejak 2001, wajah Kalimarau terus berubah jauh lebih baik . Dengan didukung perlengkapan mulai navigasi juga turut di benahi. Pada Tahun 2006, bandara ini mulai menambah fasilitas seperti Precision Approach Path Indicator (PAPI). Lalu Tahun 2007 dilakukan perpanjangan landasan menjadi 1.850 meter, perlengkapan navigasi Divor, penambahan kendaraan patroli 2 unit, genset 125 ditambah N 25 KVA, semua peningkatan peralatan melalui dana APBN Saat ini dengan berkembangnya Kabupaten Berau menjadi kota pariwisata, maka secara historis Teluk Bayur dijadikan sebagai pintu gerbang ke Bumi Batiwakal, untuk mendukung kegiatan pariwisata dan perindustrian disamping itu untuk keperluan masyarakat umum, melakukan aktifitas sehari hari, dengan melalui trasportasi udara. Dengan dibukanya Berau sebagai kota wisata, pertumbuhan penumpang cukup spektakuler. Menurut data masterplan bandara Kalimarau Tahun 2002 pesawat tipe Boeing 737-200 diperkirakan akan berjadwal pada tahun 2012, tetapi realita di lapangan Boeing 737 – 200 telah berjadwal pada tahun 2008. Dan pada bulan angustus 2009 telah beroperasi maskapai penerbangan Batavia Air dengan B.737 – 300 dan 16 Juli 2010 Sriwijaya Air jenis boeing 737 – 300. Diperkirakan kapasitas penumpang di lapangan pada tahun 2008 telah mencapai 107.982, dengan laju pergerakan penumpang 39,47% per tahun. Dari beberapa indikator diatas maka bandara Kalimarau patutlah dikembangkan untuk mencapai target perkembangan bandar udara Kalimarau mendatang. Berdasarkan kebijakan pemerintah. Dan kondisi bandara yang ada sekarang, maka pihak yang terkait telah melakukan tahapan pembangunan dengan melakukan pembangunan banda udara baru dan perluasan wilayah operasional. Diketahui bahwa luas lahan bandara yang sekarang adalah seluas 56,07 ha. Luas lahan yang diperlukan untuk pengembangan bandara Kalimarau adalah seluas 183,14 ha. Tata guna lahan sekitar lahan bandara merupakan lahan ladang, perbukitan, rawa dan pemukiman dengan kerapatan rendah. (Wanda Nunung Fachrurroziz/Bersambung )
|