Amins: Penuh Perjuangan Usulkan Honor RTPisah Sambut Walikota dengan Ketua RT dan LPM
2010-12-31 05:45:50
SAMARINDA—Walikota Samarinda 2 periode (2000-2005 dan 2005-2010) Dr H Achmad Amins mengaku berat awalnya mengusulkan honor (insentif) ketua RT dan penuh perjuangan. “Apresiasi bagi RT ini sangat perlu. Walaupun awalnya Rp 50 ribu per bulan dan terus meningkat, hingga akhir jabatan insentifnya Rp 300 ribu. Memang nilainya tidak seberapa bagi ketua RT atas partisipasi dan peranannya dalam membangun sebagai ujung tombak pemerintah. Banyak prestasi dan penghargaan yang didapat, juga tidak terlepas partisipasi ketua RT,” ungkap Achmad Amins ketika memberikan sambutan pada silaturahmi dan pisah sambut walikota dengan ketua RT se kota Samarinda dan LPM di GOR Segiri, Kamis (30/12). Amins juga merasa senang walikota terpilih periode 2010-2015 menjanjikan kenaikan insentif RT. “Alhamdulillah, naik lagi insentif RT. Pak wali ini merakyat, lebih merakyat lagi dari saya. Kalau ada RT yang bertugas lebih 10 tahun, kalau keuangan Pemkot mampu, dinaikkan haji. Tapi bagi ketua RT yang benar-benar tidak mampu. Saya bukan berjanji, tapi mengingatkan walikota. Karena doa-doa mereka saat di tanah suci sangat makbul. Nanti mereka mendoakan Samarinda terjauh dari bala bencana, warganya makmur,” imbuh Amins yang hadir bersama isterinya Hj Aminah Amins. Sementara walikota H Syaharie Jaang dalam sambutannya yang selalu menyebut Achmad Amins dengan kalimat ayahanda mengaku masih memerlukan masukan dan nasehat dalam pembangunan. “Jadikan Pak Achmad Amins sebagai orang tua kita,” ajak Syaharie Jaang. Apresiasi juga diberikan Syaharie Jaang dan menepati janjinya untuk menaikkan insentif ketua RT mulai tahun 2011. “Naik Rp 500 ribu per bulan. Bukan naik Rp 500 ribu, tapi naiknya Rp 200 ribu, dari sebelumnya Rp 300 ribu menjadi Rp 500 ribu,” ungkap Jaang menggebu-gebu yang hadir bersama isterinya didampingi wakil walikota H Nusyirwan Ismail bersama isteri. Jaang juga mengemukakan program Samarinda HBS tetap dilanjutkan. “Visi misi walikota tidak berjalan dan mencapai sasaran, jika pengambil kebijakan dan pelaksana kebijakan termasuk ketua RT dan LPM tidak bersatu dan tidak ada kebersamaan,” tegasnya. Jaang mencontohkan semangat kebersamaan masyarakat Indonesia, khususnya warga Samarinda mendukung Timnas Indonesia bisa diaplikasikan dalam membangun kota Tepian ini. Jaang mengungkapkan pula ketua RT sebagai ujung tombak pemerintah harus menjadi teladan bagi warganya. “Jangan sampai ada ketua RT tertangkap ber-kartuan apalagi narkoba. Begitu pula mengumumkan kepada warga untuk kerja bakti, tapi dia sendiri tidak ikut. Atau menganjurkan warganya membuang sampah dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi, tapi isterinya membuang jam 10 pagi,” pungkas Jaang.(hms2)
|