Warga Maratua Minim Perhatian2011-01-04 04:55:46
BERAU-Warga Pulau Marantua yang merupakan salah satu pulau terluar Indonesia Kabupaten Berau mengaku minim perhatian dari pemerintah. Selain tidak adanya infrastruktur, jalan yang memadai daerah ini masih belum tersentuh aliran listrik. Masyarakat di pulau ini hanya bergantung pada penerangan genset yang tidak dimiliki semua warga. Warga pulau terluar di wilayah timur Kalimantan yang berbatasan dengan Filipina ini mengaku bahwa perhatian yang diminta warga Indonesia didaerah itu adalah peningkatan di bidang ekonomi. "Warga Pulau Maratua hanya menginginkan perhatian pemerintah agar kehidupan ekonomi mereka bisa lebih baik. Hal yang paling dibutuhkan yakni, bantuan modal usaha baik sebagai nelayan maupun bantuan kepada beberapa warga yang menjalankan aktifitas sebagai pembuat perahu," kata camat Maratua Khudarat kepada wartawan dikediamanya belum lama ini. Khudarat mengatakan selama ini banyak warga di Pulau Maratua yang menjalankan bisnis membuat kapal. Namun, bahan baku kayu yang selama ini banyak di Pulau Maratua yang menjadi bahan dasar pembuatan perahu itu sudah langka, sehingga mereka kesulitan melanjutkan usaha tersebut. "Warga khususnya para pembuat perahu berharap ada bantuan dari pemerintah agar aktivitas mereka bisa tetap berjalan," kata Khudarat. Bagi para pembuat perahu Pulau Maratua, bantuan modal usaha menjadi harapan yang sangat besar. Sebelum kayu dilarang, warga mudah mendapatkan bahan baku untuk membuat perahu. Satu perahu lanjutnya, bisa dikerjakan warga paling lama tiga bulan. Namun, sejak kayu sulit didapat, mereka terpaksa memesannya dari luar. Itupun kualitasnya lebih rendah dibanding kayu asal Maratua. Kelangkaan bahan baku menyebabkan pembuatan perahu itu harus dikerjakan hingga delapan bulan bahkan sampai satu tahun. Selama bertahun-tahun kata Khudarat, Maratua seolah menjadi pulau yang terlupakan. "Pulau Maratua sebelumnya ibarat pulau yang dianaktirikan. Tetapi setelah kasus Ambalat mencuat, pulau ini langsung mendapat perhatian. Lihat saja sendiri, saat ini sudah ada puskesmas, Kantor Polsek dan Koramil," katanya. "Kalau dulu, warga sangat jarang melihat pesawat, tetapi sekarang pesawat terbang sudah sering melintas di atau Pulau Maratua," kata Khudarat. Sementara itu Ramli warga Maratua mengatakan bahwa warga maratua umumnya sebagai nelayan yang mengandalkan nasib dari hasil tangkapan ikan. Namun karena banyaknya para nelayan yang menggunakan bom dan racun membuat penghasilan nelayan jauh menurun dan ini harusnya juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah terkait penangkapan ikan secara ilegal. "Dulu, sebelum ada nelayan yang menggunakan bom dan racun untuk menangkap ikan, penghasilan kami jauh labih baik. Tapi sekarang, kadang kami harus berebut lokasi dengan para nelayan pembom dan peracun ikan itu, bahkan tidak jarang kami terlibat aksi kerja-kejaran dengan mereka," kata Ramli. Dari itu lanjutnya nelayan berharap agar pemerintah bisa menertibkan nelayan yang menangkap ikan bom dan racun, sebab selain menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan kami juga dapat merusak ekosistem laut di sekitar Pulau Maratua yang menjadi kebanggaan kami selama ini. Pulau Misterius Siapa mengenal Pulau Maratua? Bahkan tidak setiap warga Kalimantan Timur pun pernah mendengar nama pulau itu. Salah satu pulau terluar Indonesia, yang terletak di Kabupaten Berau itu memang nyaris tidak pernah disebut. Pulau yang dihuni 3.000 warga Suku Bajao itu, tidak diketahui secara luas oleh masyarakat Indonesia, mungkin karena dianggap tak penting, padahal pulau itu adalah salah satu "beranda" Indonesia. Pulau berbentuk huruf `U` itu, disebut-sebut menjadi taman impian turis asing dan penyelam, sebab gugusan pulau-pulau kecil di Pulau Maratua, menyimpan berbagai potensi wisata bahari, termasuk keindahan biota laut. Pulau Maratua dalam masyarakat Bajau yang mengaku berasal dari Filipina disebut sebagai `Malatua` atau Kayu Tuba, sejenis kayu beracun yang biasa digunakan nelayan setempat dalam menangkap ikan. Pulau Maratua memiliki pantai dan alam yang cukup indah. Hanya saja sejauh ini belum dikelola secara maksimal. Di tengah pulau Maratua, terdapat 14 pulau-pulau kecil dan baru dua pulau saja yang sudah dikelola, itupun dikelola oleh perusahaan asing yakni Jerman dan Malaysia. Dua resor yang ada di Pulau Maratua dimiliki PT. Paradise (Malaysia) dan PT. Nabuko, perusahaan asal Jerman. Keragaman ekosistem bawah laut di Pulau Maratua menjadi salah satu daya tarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Keindahan panorama bawah laut di Pulau Maratua yang juga sebagai tempat bertelurnya penyu hijau dan menjadi habitat ikan pari menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bahkan, banyak wisatawan yang datang hanya untuk melakukan penyelaman, sekedar melihat keragaman terumbu karang tertinggi ketiga di dunia setelah Raja Ampat dan Salamon. Tidak hanya menyimpan keindahan laut dan pantai, Pulau Maratua kata Khudarat juga memiliki keindahan alam yang sangat unik dibanding pulau-pulau lainnya di Indonesia. Gugusan gunung dan hamparan hutan di sepanjang Pulau Maratua menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Suku Bajau yang mendiami pulau terluar tersebut. M4n
|