Aisyiyah Bertanggungjawab Melakukan Perubahan2011-01-08 07:07:25
SAMARINDA-Gubernur Kaltim H AWang Faroek Ishak menegaskan bahwa organisasi Aisyiyah sebagai organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan, dan serta memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan sebuah perubahan dan pencerahan terhadap peradaban masyarakat. “Organisasi Aisyiyah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegaitan masyarakatan. Sebagai agen perubahan, melalui peran ibu-ibu di ‘Aisyiyah, diharapkan mampu tampil dalam mempelopori bagi perubahan tersebut,” kata Awang Faroek Ishak saat membuka Musyawarah Wilayah ke-10 Aisyiyah Kaltim di Ruang Ruhui Rahayu, Jumat (7/1). Apalagi, jika perhatikan kondisi saat sekarang ini permasalahan kehidupan masyarakat semakin kompleks. Dimana kecenderungan zaman di abad ke-21 ini diwarnai berbagai perubahan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Keadaan ini telah mengubah sikap manusia yang mengarah pada saling berkompetisi dalam menguasai IPTEK. Akibatnya, terjadi interdependensi global dalam segala bidang, khususnya globalisasi informasi dan budaya. Hal ini karena ruang dan waktu tidak lagi menjadi batas untuk pertukaran arus informasi. Bahkan masyarakat sangat dipengaruhi dan bergantung pada informasi. Artinya setiap orang yang ingin survive, maju, dan memiliki kualitas tertentu selalu membutuhkan informasi. Sayangnya, kemajuan itu telah menggeser nilai-nilai dan tatanan masyarakat. “Pola hidup dan budaya asing lambat laun telah memarginalkan nilai-nilai dan tatanan agama. Keimanan dan ketakwaan menjadi melemah, karena dipengaruhi nilai-nilai sekularisme, pesimisme, materialisme, hedonisme, nativisme, bahkan primordialisme dan anarkhisme,” jelasnya. Kondisi ini diperparah lagi dengan timbulnya masyarakat saintifik, yaitu masyarakat yang lebih menitikberatkan pada logika, rasionalitas, dan objektivitas. Sementara faktor religiusitas (keagamaan) dikesampingkan, sehingga seseorang akan semakin jauh dari Tuhan dan tidak lagi mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. “Menghadapi kenyataan tersebut, maka diharapkan agar Aisyiyah dalam program kerjanya ke depan dapat menyikapi permasalahan itu dengan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Terutama menyadarkan keluarga dan masyarakat untuk kembali pada agama, serta menciptakan harmonisasi di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga tercipta masyarakat beriman dan bertakwa, yang berkualitas, sehat, kuat dan sejahtera,” harap Awang.mar
|